-->
  • Jelajahi

    Copyright © SUARACIANJUR.COM | MEDIANYA ORANG CIANJUR
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Dokter di AS Sebut Rambut Rontok Merupakan Efek Samping Virus Corona

    SUARA CIANJUR
    Sabtu, 26 September 2020, 10.11 WIB Last Updated 2020-09-26T03:11:50Z
     
    Dokter di AS Sebut Rambut Rontok Merupakan Efek Samping Virus Corona

    SUARA CIANJUR ■ Johns Hopkins Coronavirus Resource Center, Jumat pagi (25/9) melaporkan bahwa AS di ambang angka mencengangkan, 7 juta kasus COVID-19. India menyusul di bawah AS dengan 5,8 juta dan Brazil 4,6 juta kasus.

    Meningkatnya kasus di Brazil mendorong negara itu mengumumkan penundaan parade Karnaval tahunan Rio de Janeiro yang diselenggarakan bulan Februari, pada musim panas di negara di Amerika Selatan itu. Jutaan orang turun ke jalan-jalan kota Rio untuk mengikuti acara tahunan yang ramai itu.

    Ini merupakan pertama kalinya acara tersebut ditunda. Belum jelas benar kapan atau apakah parade terkenal di dunia itu akan dilangsungkan pada tahun 2021.

    Rambut rontok merupakan efek samping virus corona yang paling baru dilaporkan. Sebuah pernyataan di the New York Times menyebutkan para dokter melihat ada kenaikan jumlah pasien yang melaporkan tentang kerontokan tersebut. Rambut rontok terjadi bukan hanya pada mereka yang terjangkit virus, tetapi juga yang tidak.

    Para dokter menyatakan mereka meyakini dalam kedua kasus itu, kerontokan rambut dapat dikaitkan dengan stres. 

    “Ada banyak stres dalam banyak hal terkait pandemik ini, dan kami masih melihat kerontokan rambut karena banyak stres yang belum hilang,” kata Dr. Shilpi Khetarpal, profesor dermatologi di Cleveland Clinic kepada harian itu.

    Pemberitahuan akan tutup disampaikan Kamis di tempat-tempat minum di negara bagian Wales dan Inggris, sementara Inggris memperketat peraturan dalam upaya membendung lonjakan kasus virus corona.

    Berdasarkan peraturan baru yang diumumkan hari Selasa oleh PM Boris Johnson itu, semua tempat yang menyajikan makanan dan minuman harus tutup sebelum pukul 10 malam.

    Peraturan baru itu mulai berlaku di Skotlandia pada hari Jumat, sementara Irlandia Utara masih mempertimbangkan pemberlakuan jam malam.

    Tempat-tempat minum di Inggris biasanya tutup pada pukul 11 malam. Tetapi sebagian tetap buka hingga larut, tergantung pada lokasi tempat minum-minum tersebut dan harinya.

    Inggris mengumumkan 6.634 kasus baru pada hari Kamis, jumlah harian terbanyak sejak pandemik merebak. Inggris melakukan sekitar 220 ribu tes setiap hari.

    Sementara itu, para pejabat kesehatan Uni Eropa Kamis mendesak negara-negara anggota untuk bertindak tegas dalam memberlakukan dan menggunakan berbagai langkah untuk menghentikan penyebaran virus corona dan kemungkinan lonjakan dalam kasus-kasus seperti yang terjadi pada awal tahun ini, yang mendorong lockdown yang meluas.

    “Kita berada pada momen menentukan. Semua negara anggota harus siap untuk melakukan langkah-langkah pengendalian, segera dan pada saat yang tepat, pada tanda-tanda paling awal mengenai kemungkinan wabah baru,” kata Stella Kyriakides, komisaris urusan kesehatan dan keamanan pangan. 

    Ia menambahkan, “Ini mungkin peluang terakhir kita untuk mencegah peristiwa musim semi lalu.”

    Lebih dari 3 juta kasus dilaporkan di Uni Eropa dan Inggris sejak pandemi merebak, sebut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa.

    Kyriakides mencatat beberapa negara anggota Uni Eropa mengalami jumlah kasus baru yang lebih tinggi daripada yang tercatat pada Maret lalu, pada puncak wabah di kawasan tersebut. Ia mengatakan, “Sangat jelas bahwa krisis ini belum berlalu.”

    Kementerian kesehatan Perancis Kamis melaporkan jumlah pasien yang dirawat di unit perawatan intensif di rumah sakit-rumah sakit karena virus corona telah melampaui 1.000 untuk pertama kalinya sejak awal Juni.

    Di Belanda, para pejabat kesehatan Kamis menyatakan jumlah kasus baru naik menjadi 2.544, rekor tertinggi yang tercatat dalam satu hari.

    Kementerian kesehatan Polandia juga melaporkan rekor kenaikan harian dalam jumlah kasus dan mengaitkan kecenderungan ini dengan orang-orang yang melakukan kontak lebih banyak lagi dengan yang lainnya begitu restriksi dicabut.

    Swedia, yang memilih untuk tidak memberlakukan banyak langkah lockdown lebih ketat karena wabah virus corona seperti di negara-negara lain di Eropa, mengalami situasi yang menurut PM Stefan Lofven mengkhawatirkan.

    “Kehati-hatian yang ada pada musim semi lalu telah semakin sering digantikan dengan berpelukan, pesta, perjalanan dengan bus pada jam-jam sibuk, dan kehidupan sehari-hari yang, bagi banyak orang, tampak kembali ke normal,” kata Lofven kepada wartawan.

    Ia mengatakan masyarakat akan gembira dengan langkah-langkah tepat yang mereka lakukan sekarang ini dan menderita kelak kalau mengambil langkah yang keliru. Lofven mendesak masyarakat agar mengikuti pedoman menjaga jarak dan memelihara kebersihan, dan mengatakan, jika perlu, pemerintah akan memberlakukan langkah-langkah baru untuk menghentikan penyebaran virus.  

    Partner Sindikasi Konten: VOA
    Diterbitkan: SuaraCianjur.com
    Editor : Neneng Mardianah


    Komentar

    Tampilkan

    Tidak ada komentar:

    Posting Komentar

    Berita Terbaru

    loading...

    PILKADA CIANJUR

    +