Hotspot Karhutla Anjlok di 4 Provinsi, Menhut Tegaskan Status Belum Aman

suaracianjur.com
September 01, 2026 | 13:32 WIB Last Updated 2026-09-01T06:37:29Z
Foto: Dok. (Azmi SC) Hotspot Karhutla Anjlok di 4 Provinsi, Menhut Tegaskan Status Belum Aman

SUARA CIANJUR | PALEMBANG - Klaim penurunan tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara nasional belum sejalan dengan kondisi di lapangan. Pemerintah mengakui status darurat asap belum berakhir, terutama di lahan gambut yang masih menyimpan bara.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyatakan, secara agregat jumlah titik panas (hotspot) memang menurun. Namun ia menekankan kondisi tersebut tidak bisa dimaknai sebagai situasi aman.

“ Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia, sekali lagi kondisi kita belum aman dari karhutla namun tren secara nasional juga menurun membaik,” kata Raja Antoni usai Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).

Rakor tersebut dihadiri Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, serta unsur Forkopimda Sumsel.

Data yang dipaparkan pemerintah menunjukkan penurunan signifikan di empat dari enam provinsi prioritas karhutla pada 29-30 Agustus 2026. Kalimantan Tengah anjlok 72,4% dari 1.116 menjadi 308 titik. Kalimantan Barat turun 49,4% dari 899 menjadi 455 titik. Kalimantan Selatan turun 83,3% dari 108 menjadi 18 titik, dan Riau bahkan 0 titik dari sebelumnya 3 titik.

Sebaliknya, Sumatera Selatan dan Jambi justru menunjukkan kenaikan. Hotspot di Sumsel naik dari 37 menjadi 39 titik, sementara Jambi dari 1 menjadi 2 titik.

Fluktuasi di Sumsel dalam lima hari terakhir mengindikasikan kerawanan yang belum stabil. Catatan harian: 62 titik (26 Agustus), melonjak ke 157 titik (27 Agustus), turun ke 81 titik (28 Agustus), kembali turun ke 37 titik (29 Agustus), dan naik lagi ke 39 titik (30 Agustus).

Menteri mengingatkan, berkurangnya hotspot satelit tidak otomatis berarti asap hilang. Karakteristik gambut membuat api bisa padam di permukaan namun tetap membara di bawah.

“ Tapi sekali lagi hotspot ini tidak menandakan bahwa tidak ada asap, karena nature-nya gambut meskipun tidak ada apinya asapnya tetap selalu terlalu ada,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai operasi pendinginan dan pembasahan harus dilakukan berulang dan intensif. Jika tidak, titik yang sudah padam berpotensi kembali menjadi titik api.

“ Apabila tidak diadakan pendinginan, pembasahan atau pendinginan yang intensif ya yang berkali-kali ini masih berpotensi menjadi fire spot kembali,” katanya.

Di tengah prediksi El Nino yang menguat, pemerintah meminta partisipasi aktif dari seluruh lapisan hingga tingkat desa untuk mencegah perluasan karhutla.

“ Kami berharap kerja sama semua pihak, baik masyarakat, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa ya sampai seluruh elemen masyarakat dibawa untuk sama-sama berpartisipasi menyelesaikan masalah ini,” sambung Raja Antoni.

Azmi
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hotspot Karhutla Anjlok di 4 Provinsi, Menhut Tegaskan Status Belum Aman

Trending Now

Iklan