Ijazah Tak Lagi Jaminan Kerja, Menaker Minta Anak Muda Adaptif Hadapi Gempuran AI

suaracianjur.com
September 25, 2026 | 22:31 WIB Last Updated 2026-09-25T15:36:26Z
Foto: Dok. (Biro Humas Kemenaker) Menteri Ketenagakerjaan Yassierli 

SUARA CIANJUR | PADANG - Ijazah sarjana tak lagi jadi tiket otomatis masuk dunia kerja. Di tengah gempuran kecerdasan artifisial (AI) dan makin sempitnya lapangan kerja formal, pemerintah meminta generasi muda untuk beradaptasi.

Pesan itu disampaikan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli dalam Kuliah Umum di Universitas Baiturrahmah, Padang, Jumat (25/9/2026).

Yassierli menilai ada empat kekuatan besar yang sedang merombak total peta ketenagakerjaan: kecerdasan artifisial (AI), digitalisasi, ekonomi hijau, dan pergeseran demografi.

"Dalam menyikapi perubahan tersebut, tidak cukup jika hanya berbekal ijazah. Kita perlu menyiapkan generasi muda agar memiliki kompetensi yang relevan, pengalaman kerja, kemampuan beradaptasi, dan memiliki kemauan untuk terus belajar," ujar Yassierli.

Menurutnya, kunci bertahan bukan lagi gelar, melainkan kemauan untuk reskilling dan upskilling. Peningkatan keterampilan justru menjadi pintu masuk untuk jenis pekerjaan baru yang lahir dari teknologi.

Ia membagi keterampilan yang dibutuhkan saat ini ke dalam dua klaster:

1. Core Skills: kemampuan teknis, sertifikasi kompetensi, portofolio nyata, dan pengalaman praktik.

2. Integrated Skills: kemampuan mengkombinasikan berbagai keahlian lintas bidang sesuai kebutuhan industri.
Foto: Dok. (Biro Humas Kemenaker) Ijazah sarjana tak lagi jadi tiket otomatis masuk dunia kerja. Di tengah gempuran kecerdasan artifisial (AI) dan makin sempitnya lapangan kerja formal, pemerintah meminta generasi muda untuk beradaptasi

Di tengah dominasi AI, Yassierli mengingatkan keunggulan manusia tetap tak tergantikan.

"Di tengah perkembangan AI, peran manusia dalam kreativitas, empati, integritas, kemampuan mengambil keputusan harus terus diperkuat. Karena itu, kita perlu belajar bekerja bersama teknologi," tegasnya.

Adaptasi, lanjutnya, tidak bisa instan. Dibutuhkan growth mindset, jam terbang, dan ketekunan.

Kementerian Ketenagakerjaan, kata dia, telah menyiapkan sejumlah instrumen pendukung, mulai dari Balai Pelatihan Vokasi, Program Pemagangan Nasional, pengembangan talenta, hingga sertifikasi berbasis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Meski begitu, efektivitas program tersebut masih menjadi pekerjaan rumah. Kesenjangan antara lulusan pelatihan vokasi dengan kebutuhan riil industri masih lebar.

"Dunia kerja akan terus berubah. Karena itu, generasi muda harus memiliki semangat untuk terus belajar, meningkatkan keterampilan, dan beradaptasi dengan perubahan. Pemerintah hadir untuk memastikan ekosistem pendukungnya tersedia," pungkas Yassierli.

Reporter: Heri Arkam
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ijazah Tak Lagi Jaminan Kerja, Menaker Minta Anak Muda Adaptif Hadapi Gempuran AI

Trending Now

Iklan