Hanya Optimal di Warungkondang, Pandan Wangi Jadi Basis Kampung Budaya Cianjur

suaracianjur.com
November 02, 2026 | 23:24 WIB Last Updated 2026-11-02T16:31:38Z
Foto: Dok. (Dang- SC) Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Yudha Azwar, S.E., M.H., saat diwawancarai awak media suara cianjur

SUARA CIANJUR | WARUNGKONDANG - Beras pandan wangi dikenal sebagai ikon Kabupaten Cianjur. Namun tidak banyak yang tahu, varietas unggul tersebut hanya tumbuh optimal di wilayah Kecamatan Warungkondang.

Fakta itulah yang melatarbelakangi pembangunan Destinasi Kampung Budaya Padi Pandan Wangi di Kampung Cimanggu, Desa Tegalega, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Dibangun sejak 2017, destinasi ini tidak hanya menawarkan panorama alam, tetapi juga menjadi pusat pelestarian budaya dan edukasi pertanian.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Cianjur, Yudha Azwar, S.E., M.H., membenarkan keberadaan destinasi tersebut.

"Benar, ada Kampung Budaya Padi Pandan Wangi di sana. Salah satu ciri khas Kabupaten Cianjur adalah beras pandan wangi, dan lokasi yang paling baik serta paling tepat untuk pertumbuhannya memang hanya ada di kampung-kampung yang ada di Kecamatan Warungkondang," ujar Yudha saat ditemui Senin (2/11/2026).

Menurut Yudha, Dinas Pertanian pernah mencoba mengembangkan padi pandan wangi di luar Warungkondang, namun hasilnya tidak maksimal.

"Sudah pernah dicoba oleh Dinas Pertanian untuk dikembangkan di luar Warungkondang, dan ternyata hasilnya tidak sama dengan yang ditanam di Warungkondang. Karena itulah lokasi di Warungkondang ini harus kita lestarikan," jelasnya.

Daya tarik utama destinasi ini adalah suasana pedesaan yang otentik dengan hamparan sawah pandan wangi. Di tengahnya berdiri deretan rumah adat khas Cianjur dengan ragam bentuk atap yang khas.

Yudha menyebut ada lima jenis rumah adat Cianjur yang direplika di kawasan tersebut, yakni jolopong, julang ngapak, tagog anjing, badak heuay, dan capit gunting.
Foto: Dok. (Dang- SC) Samsudin alias Sam nampak sedang menjelaskan perkakas pertanian tempo dulu di Museum Kampung Budaya Pandan Wangi 

"Secara bangunan hampir sama, yang membedakan adalah bentuk atapnya," kata dia.

Selain rumah adat, di kawasan ini juga terdapat bangunan museum yang berfungsi sebagai sarana edukasi. Di dalamnya ditampilkan peralatan tradisional pengolahan padi, mulai dari alat tanam, panen, hingga pengolahan pascapanen.

"Kami juga memberikan edukasi kepada anak-anak sekolah yang ingin mengetahui sejarah dan tata cara menanam padi," ujarnya.

Yudha berharap pengembangan destinasi ini tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi warga.

"Tentunya kita menginginkan ada dampak ekonomi yang baik ketika membangun destinasi wisata bagi masyarakat sekitar. Masyarakat bisa memanfaatkan keberadaan Kampung Budaya Padi Pandan Wangi ini untuk mengembangkan usahanya, baik dari sisi UMKM, pertanian, maupun ekonomi kreatif dan kerajinan," harapnya.

Terkait pengelolaan, destinasi ini buka setiap hari pada jam kerja. Harga tiket masuk Rp7.000, sedangkan penyewaan rumah adat dipatok Rp250.000 per malam sesuai peraturan daerah.

"Tiket masuknya tujuh ribu rupiah. Untuk rumah adat disewakan sesuai Perda, per malamnya sekitar dua ratus lima puluh ribu rupiah," pungkas Yudha.
Foto: Dok. (Dang- SC) Bangunan rumah etnik sunda

Senada, Pengelola Kampung Budaya Padi Pandan Wangi, Samsudin yang akrab disapa Sam, mengatakan penamaan kampung budaya disesuaikan dengan potensi utama daerah tersebut.

"Daya tarik utama lainnya adalah kumpulan rumah adat khas Cianjur. Berbagai bentuk atap dan bangunan tradisional yang dulu tersebar di berbagai pelosok, kini dibangun dan dilestarikan di lokasi ini supaya tidak hilang ditelan zaman," kata Sam, Minggu (1/11/2026).

Ia menambahkan, setiap rumah adat diberi penanda nama seperti Parahu Kumureub, Badak Heuay, dan Jolopong.

"Rumah-rumah adat yang dulunya ada di Kabupaten Cianjur sekarang kami lestarikan di sini sebagai pembelajaran, agar generasi penerus tidak sampai tidak mengetahui bentuk-bentuk atap dan bangunan zaman dulu di Cianjur," ujarnya.
Foto: Dok. (Dang- SC) Gerbang Kampung Budaya Pandan Wangi 

Pengunjung tidak hanya dapat melihat bangunan, tetapi juga belajar langsung proses budidaya padi di museum edukasi pertanian.

"Museum ini untuk pembelajaran edukasi tata cara penanaman padi dari awal sampai akhir. Mulai dari pengolahan tanah, penanaman, tata cara pemeliharaan, hingga pascapanennya," kata Sam.

Ia berharap objek wisata tersebut terus berkembang dan memberi manfaat ekonomi yang lebih luas.

"Harapan saya semoga objek wisata Kampung Budaya Padi Pandan Wangi ini bisa berkembang lebih maju ke depan, sehingga dapat bermanfaat untuk mendorong tumbuh dan berkembangnya roda perekonomian masyarakat melalui kegiatan wisata ini," tutupnya.

Reporter: Dang
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Hanya Optimal di Warungkondang, Pandan Wangi Jadi Basis Kampung Budaya Cianjur

Trending Now

Iklan