Buka Lahan Bawang Putih 4 Hektare, Mata Air Kampung Keramat Dikeluhkan Tertimbun

suaracianjur.com
November 02, 2026 | 18:16 WIB Last Updated 2026-11-02T11:29:18Z
Foto: Dok. (Joy- SC) Keluhan tersebut disampaikan puluhan warga RW 08 dan RW 09 saat mendatangi Kantor Induk Perkebunan Gedeh milik PTPN I Regional 2 di Desa Sukamulya, Senin (02/11/2026)

SUARA CIANJUR | CUGENANG – Pembukaan lahan seluas sekitar 4 hektare untuk program pengembangan bawang putih di kawasan Perkebunan Gedeh dikeluhkan warga. Warga menilai sumber mata air di Kampung Keramat, Desa Sukamulya, Kecamatan Cugenang, tertimbun material tanah.

Keluhan tersebut disampaikan puluhan warga RW 08 dan RW 09 saat mendatangi Kantor Induk Perkebunan Gedeh milik PTPN I Regional 2 di Desa Sukamulya, Senin (02/11/2026).

Perwakilan warga, M. Sutisna, menyebutkan aktivitas yang menjadi perhatian warga berada di titik 17 dan 18 dengan luas bukaan sekitar 4 hektare.

"Akibat pembukaan lahan, terjadi longsoran tanah yang menimbun mata air di Kampung Keramat ketika air datang. Kami meminta pihak perusahaan bertanggung jawab atas persoalan ini," ujarnya.

Ia mengaku sebelumnya telah meminta agar ada penanganan sementara terkait aliran air.

"Saya sebelumnya meminta agar lahan yang baru dibuka ditutup. Namun, karena belum ada keputusan, setidaknya pembuangan air jangan sampai diarahkan ke lokasi mata air," katanya.

Lima Poin Aspirasi Warga

Dalam pertemuan itu, warga menyampaikan lima poin aspirasi terkait keluhan tertimbunnya mata air tersebut:

1. Penutupan lahan baru yang telah dibuka. 

2. Perbaikan sarana air yang terdampak, termasuk pipa HDPE (High-Density Polyethylene) beserta sambungannya, serta ganti rugi. 

3. Penghentian penggunaan insektisida di sekitar sumber mata air. 

4. Komitmen tanggung jawab apabila di kemudian hari kembali terjadi dampak yang merugikan masyarakat. 

5. Pemulihan fungsi sumber mata air agar kembali normal. 
Foto: Dok. (Joy- SC) Perwakilan warga, M. Sutisna, menyebutkan aktivitas yang menjadi perhatian warga berada di titik 17 dan 18 dengan luas bukaan sekitar 4 hektare

Selain soal air bersih, warga juga menyoroti aspek keselamatan. Material tanah dan bebatuan dikhawatirkan terbawa hingga ke badan jalan saat hujan turun.

"Harapan kami air bisa normal kembali seperti sediakala. Jangan sampai ketika hujan turun, bebatuan terbawa ke jalan. Jalan ini merupakan akses warga dan banyak dilalui pengguna jalan," ucapnya.

"Saya tidak selalu diam di rumah. Ketika hujan dan ada bebatuan terbawa ke jalan, saya ikut membereskannya. Kasihan pengguna jalan kalau sampai membahayakan," imbuhnya.

Sutisna menyebut ada kesepakatan awal terkait perbaikan sarana air.

"Untuk tuntutan tadi, mereka akan mengganti seperti pipa dan hasilnya sudah disepakati. Namun, ke depannya apabila terjadi lagi, kami berharap pihak perusahaan bisa membantu dan bertanggung jawab," pungkasnya.

Respons PTPN I dan Mitra

Wakil Manajer PTPN I Regional 2, Johanes Wahidi Sianipar, menyampaikan komitmen untuk mengedepankan sinergi antara perusahaan, mitra, dan warga dalam mendukung program ketahanan pangan.

"Kami dari PTPN, mitra, dan warga berkomitmen untuk melancarkan program ini. Kami ingin bersinergi untuk mencapai ketahanan pangan melalui komoditas bawang putih," kata Johanes.

Terkait aspirasi warga, pihaknya berharap dapat dibahas dan disepakati bersama.
Foto: Dok. (Joy- SC) Perwakilan warga, M. Sutisna, menyebutkan aktivitas yang menjadi perhatian warga berada di titik 17 dan 18 dengan luas bukaan sekitar 4 hektare

"Insyaallah, itu semua akan dapat disepakati bersama," ujarnya.

Sementara mitra sekaligus pelaksana teknis, Hendar Suhendar, S.P., menilai masukan warga sebagai hal yang wajar dalam kegiatan yang berdampingan dengan lingkungan permukiman. Pihaknya menegaskan berupaya meminimalkan risiko dengan penerapan SOP dan prinsip konservasi lahan.

"Ketika kita melaksanakan sesuatu, pasti ada dampak, baik positif maupun negatif. Namun, bagaimana kita meminimalkan risiko tersebut melalui penerapan SOP yang sudah menjadi perhatian kami, termasuk melaksanakan asas konservasi lahan," jelas Hendar.

Ia menjelaskan kegiatan yang dilakukan tidak menebang pohon besar, melainkan hanya membuka semak belukar, serta menyiapkan upaya pengendalian limpasan air permukaan (run off).

"Run off ini kita antisipasi dengan membuat bak penampung air untuk memfilter material yang terbawa aliran, sehingga sedimentasi bisa dikendalikan," terangnya.

Untuk mitigasi jangka panjang, pihaknya merencanakan penanaman tanaman keras seperti alpukat dan kopi, serta vetiver atau akar wangi (Chrysopogon zizanioides) untuk membantu mengurangi erosi.

"Alhamdulillah, sekarang saya sudah berdiskusi dengan warga RW 08 dan RW 09. Apa yang menjadi keluh kesah masyarakat bisa kita komunikasikan, sehingga program pemerintah dapat kembali berjalan dengan baik," pungkasnya.

Pertemuan tersebut diharapkan menjadi langkah awal penyelesaian melalui dialog bersama antara warga, PTPN I Regional 2, dan mitra pelaksana.

Reporter: Joy
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Buka Lahan Bawang Putih 4 Hektare, Mata Air Kampung Keramat Dikeluhkan Tertimbun

Trending Now

Iklan