Ngaji Literasi di Rumah Motivasi

SUARA CIANJUR
November 11, 2019 | 11:04 WIB Last Updated 2020-09-05T20:15:38Z
   Ngaji Literasi di Rumah Motivasi

SUARA CIANJUR ■ Rumah motivasi Sutejo Spectrum Center (SSC) malam itu terbilang istimewa. Pasalnya, terdapat 23 mahasiswa, dosen, dan kalangan umum berkumpul untuk melakukan tadarus cerita. Ruangan yang penuh buku itu terasa ruang kelas dan perkuliahan. Mereka duduk tenang, memegang hard copy, juga beberapa buku catatan, (Kamis, 7/19).

Selang beberapa menit, Sutejo memulai diskusi tadarus cerita malam itu. Pihaknya bercerita tentang beberapa komunitas yang telah didirikan. Menariknya, lahirnya komunitas itu karena kegelisahan selepas menamatkan kuliah dari IKIP Surabaya, sekarang UNESA.

“Binggung menemukan komunitas terlebih bergerak bidang kepenulisan. Sampai harus jelajah ke Magetan, Trenggalek, Ngawi dan kota lain,” ceritanya mengenang.

Lanjut Sutejo, komunitas pertama yang didirikan bernama Jaring Sastra tahun 1990-an. Anggotanya sahabat masa kuliah, pendidik, mahasiswa, dan masyarakat pecinta literasi. Selepas itu, muncul komunitas Ukel tahun 2000-an dan Komunitas Spectrum tahun 2003 yang eksis hingga sekarang.

Bersama komunitas yang dirintis, mampu menghasilkan kader-kader penulis handal. Beberapa anggota menjadi pemenang menulis tingkat nasional dan guru berprestasi. Bangga lagi, kadernya ada yang menjadi wartawan media cetak nasional.

“Komunitas saya terbilang kecil, tetapi masif geraknya,” pungkas lelaki yang sekarang menjabat Ketua STKIP PGRI Ponorogo itu.
Selepas menyinggung beberapa komunitas, Sutejo lantas menyampaikan tema Tadarus Cerita yang diagendakan dua kali setiap bulannya. Ngaji Fiksi, Ngaji Opini dan Esai, dan Ngaji Buku atau Resensi menjadi tema nantinya dalam komunitas itu. Tiga tema itu tidak bersama dibahas, terdapat jadwal khusus setiap pertemuannya.

“Awal bulan ngaji fiksi dan selanjutnya ngaji opini atau kesepatan bersama,” tambahnya.

Pertemuan pertama diawali dengan ngaji fiksi, tepatnya cerpen. Cerpen berjudul Bulan Ziarah Kenangan karya Sapta Arif Nurwahyudin, menjadi karya pertama yang didiskusikan bersama. Karya dibedah dan masing-masing individu menyampaikan kritik atau masukan. Dengan begitu, menurut Sutejo sebagai media belajar dan mempertanggungjawabkan karya kepada pembaca.

Sementara Lukman, peserta dari komunitas FRM (Forum Penulis Muda) mengaku komunitas bukan sekadar diskusi, tetapi bagian dari kehidupannya. Komunitas juga yang menawarkan berbagai pengalaman dibidang kepenulisan.

Disinggung soal proses kreatif menulis, Ia mengaku menulis berangkat dari cerita. "Apapun yang dibaca dan mampu memberikan inspirasi menulis," ujarnya.

Diskusi yang dihadiri wakil ketua 2 dan 3, humas, dan LPPM STKIP PGRI Ponorogo itu diakhiri dengan beberapa catatan penting menulis cerpen. Kekuatan tokoh, cerpen baik mengajak bukan menguruhi pembaca, dialog harus fungsional, kuasai teori simbolik, dan jangan takut untuk berkespresimen. Catatan disampaikan Sutejo selepas mengupas tuntas cerpen sasaran diskusi malam itu.

Red/ Agus Setiawan (Tim SLG 2 STKIP PGRI Ponorogo)

   Ngaji Literasi di Rumah Motivasi

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Ngaji Literasi di Rumah Motivasi

Trending Now

Iklan