| Foto: Dok. (Goes/Rafli) Diduga SMP IT Daar EL Mumtaaz Gunakan Data Orang lain Tanpa Izin, Motivasinya Apa? |
SUARA CIANJUR | KARANGTENGAH - Pasangan suami isteri asal Kecamatan Mande. Aminah- Encep, bingung dan heran, anaknya yang berkebutuhan khusus tercatat di aplikasi sipintar sebagai penerima manfaat PIP di satuan pendidikan SMP IT Daar EL Mumtaaz, keduanya mengaku tidak pernah mendaftarkan anaknya di SMP tersebut, bahkan di kelas 5 sekolah dasar anaknya dropout sebagai peserta didik di SDN Mande 6. Kamis (29/1/2026).
" Kami merasa heran, setelah melihat di aplikasi sipintar, anak saya M. Iqbal tercatat sebagai penerima manfaat PIP di SMP IT Daar EL Mumtaaz, dari tahun 2024- 2025, padahal di kelas 5 sekolah dasar, tahun 2022 keluar sebagai peserta didik di SDN Mande 6," ungkap Siti Aminah di dampingi Encep suaminya.
" Bagaimana bisa jadi penerima manfaat PIP di SMP IT Daar EL Mumtaaz, sedangkan saya selaku orang tua nya tidak pernah mendaftarkan," ujarnya penuh tanya.
Dalam kebingungannya Siti Aminah menuturkan: " Bagaimana semua ini bisa terjadi?, sekolah dasar saja tidak tamat," ucapnya.
Disinggung awak media kenapa anaknya tahun 2022 dropout dari SDN Mande 6? tanya awak media.
" Murangkalih abdi teh, anak berkebutuhan khusus Pak, ditanya kenapa ngak mau sekolah lagi, anak saya tidak menjawab, dia hanya nepok jidat saja, saya juga ngak tahu kenapa, cuman memang di sakolana sok diheureuyan babaturanna," beber Siti Aminah.
" Ya saya merasa tidak enak saja kok bisa seperti ini tanpa sepengetahuan orang tua anak saya terdaftar di SMP IT Daar EL Mumtaaz, saya ingin permasalahan ini diungkap dan diluruskan, saya takut data saya dan keluarga saya disalahgunakan, takutnya dikemudian hari ada apa-apa gitu pak, saya kan tidak merasa," paparnya.
Penjelasan Siti Aminah berbanding lurus dengan penjelasan Pipih selaku Kepala SDN Mande 6, ia menegaskan bahwa ijazah atas nama M. Iqbal masih ada di SDN Mande 6.
" Justru kami kaget, kok data Iqbal ada di sekolah lain, padahal resmi secara kelembagaan Iqbal tidak pernah datang untuk menandatangani atau sidik jari ijazah, sehingga sampai sekarangpun tidak pernah di ambil ijazahnya," jelas Pipih.
Terpisah, Irvan Maulana. Mengaku sebagai Guru Pembimbing di SMP IT EL Mumtaaz saat dikonfirmasi awak media mengatakan.
" Kalau memang mau memperjuangkan anak anak hayu kita bareng bareng, dan masalah anak tersebut kami tidak tahu, karena OP sekolah ini keluar dan hp nya pun tidak bisa di hubungi, kita juga sedang pusing, tentang guru yang ikut PPG, sementara operator tidak ada," tutur Irfan saat di konfirmasi awak media terkait dugaan data fiktif peserta didik di SMP IT EL Mumtaaz.
" Jadi kalau memang bapak mau membantu anak tersebut, kami siap dan kita musyawarahkan, tindakan saya sekarang akan datang ke anak tersebut, kalau memang ada haknya mari kita sampaikan pada yang bersangkutan, tapi saya minta dulu alamatnya, kalau bapak menanyakan data, saya tidak tahu, karena operator sekolah ini keluar dan tidak bisa di hubungi," tandasnya.
Goesta/Rafli hidayat