Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

suaracianjur.com
Februari 17, 2026 | 01:01 WIB Last Updated 2026-02-16T18:07:26Z
Foto: Dok. (Goesta) Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

SUARA CIANJUR | MANDE - Ratusan warga dari Kampung Tegal Panjang, Kampung Pasir Banen, Kampung Binong, Kampung Pawati, dan Kampung Bojong Koneng di wilayah administratif Desa Mekarjaya Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur mendatangi SMP/SMK Bustanul Ulum memenuhi undangan Kepala SMK Bustanul Ulum, warga nampak kecewa, karena yang mengundang tidak hadir, hanya di wakili kuasa hukumnya.

Hadi, perwakilan warga mengatakan, kedatangan mereka ke sekolah untuk menuntut hak anak-anak yang diduga tidak disalurkan.

" Kami datang untuk menuntut hak anak-anak kami yang PIP-nya tidak disalurkan. Banyak warga yang datang untuk menuntut hak anaknya,” ujar Hadi, Senin (16/2/2026).

Ia menyebut bantuan tersebut diduga tidak disalurkan selama kurang lebih enam tahun, sejak jenjang SMP hingga SMK.

" Harus secepatnya dibayar dan dikembalikan dalam jangka waktu tiga hari terhitung dari hari ini, karena itu hak anak-anak kami," ujarnya.

Jika persoalan tidak diselesaikan, warga mengancam akan menempuh jalur hukum.

" Saya dan warga lainnya akan melaporkan ke pihak berwajib,” tegasnya.

Menurut Hadi, jumlah warga yang datang mencapai sekitar 200 orang, meski sebagian sudah pulang sebelum pertemuan selesai.
Foto: Dok. (Goesta) Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

" Kami sangat kecewa. Kepala sekolah sudah menjanjikan akan mengembalikan hak anak-anak kami hari ini, tapi tidak hadir dan hanya diwakili kuasa hukum,” ujarnya.

Sementara itu Kuasa Hukum Kepala SMK Bustanul Ulum, David Putra, menyampaikan bahwa kedatangan warga berkaitan dengan tuntutan pertanggungjawaban atas PIP. Ia mengatakan akan menyampaikan seluruh poin tuntutan warga kepada kliennya dan berencana menggelar mediasi lanjutan.

" Poinnya terkait PIP, menuntut hak anak, dan jumlah bantuan yang diterima tiap siswa. Untuk detailnya nanti akan disampaikan langsung oleh ibu kepala sekolah,” katanya.

Terkait dugaan siswa fiktif, ia menyebut hal tersebut belum dibahas dalam musyawarah dan meminta agar menunggu penjelasan langsung dari kepala sekolah. Ia juga berharap persoalan dapat diselesaikan melalui mediasi tanpa harus menempuh jalur hukum.

" Kalau bisa jangan ke jalur hukum, dimediasi dulu,” ujarnya.

Sebelumnya pada hari Rabu, 11 Februari 2026, Kepala SMK Bustanul Ulum Ida Farida, S. Pd., mewakili SMP/SMK Bustanul Ulum telah melaksanakan pengembalian kepada 9 orang penerima manfaat Program Indonesia Pintar.

" Hari ini kami melaksanakan pengembalian dana bantuan PIP, yang dipotong karena ada tunggakan, adapun yang tidak mempunyai tunggakan, itu artinya di terima seutuhnya," tutur Ida.
Foto: Dok. (Goesta) Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

"Jadi untuk yang lainya yang belum tersalurkan, kami siap bertanggung jawab, seperti dari pawati sebagian haknya sudah ada yang di kembalikan, karena kami sudah kordinasi dengan pak punduh, baik itu kampung pawati, Tegal panjang kami sudah realisasikan hak anak selaku siswa siswi baik SMP maupun SMK Bustanul Ulum," terangnya.

Hasil wawancara dengan ratusan narasumber yang telah di wawancarai awak media ditemukan beragam praktik penyelewengan dana bantuan PIP di SMP/SMK Bustanul Ulum, mulai dari dugaan praktik pemotongan, penggelapan, hingga munculnya peserta didik fiktif yang diduga untuk menyerap bantuan PIP.

Seperti yang disampaikan Rukoyah (45) warga Kp. Tegalpanjang RT. 01/02 Desa Mekarjaya, sesuai yang tercatat di aplikasi sipintar Asep Solihin (Anak Rukoyah) tercatat sebagai penerima manfaat PIP di SMP/SMK Bustanul Ulum, padahal Rukoyah selaku orang tuanya tidak pernah mendaftarkan.

" Setelah lulus di SDN Cibeureum- Karangtengah, anak saya Asep Solihin tidak melanjutkan pendidikan ke SMP maupun SMK, dan saya tidak pernah mendaftarkan ke lembaga pendidikan manapun, tapi anehnya mendapat bantuan PIP di SMP/SMK Bustanul Ulum?," terang Rukoyah, Sabtu (14/2/2026). 

" Di aplikasi sipintar anak saya mendapat bantuan PIP dari tahun 2019, 2020, dan 2021, padahal saya tidak mendaftarkan anak saya ke SMP Bustanul Ulum," jelasnya.

Lanjut Rukoyah: " Kemudian di SMK Bustanul Ulum tercatat di aplikasi sipintar mendapat bantuan PIP dari tahun 2022, 2023 dan 2024, padahal saya selaku orang tuanya tidak pernah mendaftarkan anak saya ke SMP/SMK Bustanul Ulum," bebernya.

" Saya tidak akan mempersoalkan dana PIPnya, namun akan mempersoalkan pemakaian data pribadi anak saya, kalau saya tidak mengecek sendiri di aplikasi sipintar, saya tidak akan tahu data pribadi anak saya dipakai SMP dan SMK Bustanul Ulum, dan itu sudah terjadi, tanpa seizin saya, selaku orang tua nya," tandas Rukoyah.

Masih dilokasi yang sama, Dira (59) warga Kampung Pasir Banen, mengaku ke- empat anaknya bersekolah bersekolah di SMP/SMK Bustanul Ulum, dan ke- empatnya tercatat sebagai penerima manfaat PIP, namun hak anaknya tidak sepenuhnya di serahkan ke penerima manfaat.

" Ayu Marsah anak saya di SMP Bustanul Ulum, sesuai yang tercatat di aplikasi sipintar dari tahun 2021, 2022, dan 2023 tercantum sebagai penerima manfaat PIP, dan di SMK Bustanul Ulum dari 2024 dan 2025 tercatat juga sebagai penerima manfaat, dari 5 kali mendapat bantuan, penerima manfaat hanya menerima bantuan sekali, sebesar Rp. 500.000,- waktu SMP, sedangkan di SMK sama sekali tidak pernah menerima," urainya.

" Pahad anak saya peserta didik di SMK Bustanul Ulum dari tahun 2022, 2023 dan 2024 tercatat sebagai penerima manfaat PIP, tapi tidak sekalipun menerima uangnya," ucap Dira.

Sambung Dira, sementara itu Sehli anak saya, saat duduk di kelas 2 SMP Bustanul Ulum pernah menerima bantuan PIP sebesar Rp. 500.000,- padahal yang tercatat di aplikasi sipintar 4 kali, dari tahun 2020, 2021, 2022 dan 2023.

" Di SMK Bustanul Ulum, Sehli, anak saya tidak pernah menerima uang bantuan PIP, padahal di aplikasi sipintar dari tahun 2024 dan 2025 tercatat sebagai penerima manfaat," katanya.

Terakhir, Dira menjelaskan permasalahan yang menimpa anaknya yang ke 4, Farhan peserta didik di SMP Bustanul Ulum, meski tercatat di aplikasi sipintar sebagai penerima manfaat, namun tidak pernah menerima uangnya.

" Dari tahun 2023, 2024 dan 2025 tercatat di aplikasi sipintar sebagai penerima manfaat PIP, tapi tidak pernah menerima uangnya," tuturnya.

Disinggung awak media terkait buku simpanan pelajar (Simpel) atau buku rekening PIP ke- empat anaknya di pegang siapa? Dira menyebut tidak pernah memegangnya.

" Buku rekening PIP dipegang pihak sekolah hingga saat ini, pernah ditanyakan beberapa kali ke sekolah alasan di Bank lah, ibu guru nya sakit lah, sampai bosan menanyakan tetap tidak dikasihkan hingga saat ini," jelasnya.

" Selama ini saya cukup lama bersabar dalam menyikapi permasalahan PIP ke- empat anak saya, berulang kali sering saya pertanyakan, namun pihak sekolah tidak pernah merespon dengan baik," pungkasnya.

Keluhan dugaan pemotongan dana bantuan PIP disampaikan oleh Asep Somantri (37) selaku orang tua murid dari Lestari peserta didik di SMP Bustanul Ulum.
Foto: Dok. (Goesta) Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

" Lestari anak saya peserta didik di SMP Bustanul Ulum mendapat bantuan PIP sebanyak 2 kali, pertama di kelas 1 Rp. 350.000,- dipotong untuk infaq Rp. 200.000,- yang diterima anak saya sisanya Rp. 150.000,-" jelasnya.

" Yang kedua di kelas 2 SMP mendapat Rp. 750.000,- kemudian dipotong Rp. 600.000,- entah untuk apa, sisanya Rp. 150.000,-" katanya.

Tambah Asep, ketika saya cek di aplikasi sipintar, ternyata anak saya mendapat bantuan lebih dari 2 kali.

" Tercatat di aplikasi sipintar mendapat bantuan 3 kali, dari 2021, 2022, dan 2023," ujarnya.

Disinggung mengenai keberadaan buku simpanan pelajar atau buku rekening PIP milik Lestari selama ini dipegang oleh siapa? Asep menjawab di sekolah.

" Buku tabungan dipegang ku sakola, matak abdi mah SMK na murangkalih teu di masukeun KA SMK Bustanul Ulum, da abdina kecewa," tuturnya menggunakan bahasa daerah.

Sementara itu Helmi Halimudin Kabid SMP Disdikpora Kabupaten Cianjur dihubungi awak media melalui sambungan aplikasi perpesanan WhatsApp terkait skandal PIP di SMP/SMK Bustanul Ulum, pihaknya akan melakukan kroscek dan melakukan pemanggilan.

" Siap kita panggil dulu, kita kroscek, terimakasih informasinya. Kita akan periksa," singkatnya.

Goesta
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Skandal PIP: Ratusan Warga Datangi SMP/SMK Bustanul Ulum Tagih Janji Kepala Sekolah

Trending Now

Iklan