| Foto: Dok. (Hasanudin) Dari Pesantren Menuju Parlemen, Rizieq Alman: Banyak santri yang masih terjebak dalam dikotomi |
SUARA CIANJUR | JAKARTA - Ada anggapan lama yang perlahan memudar, bahwa dunia pesantren dan dunia parlemen adalah dua kutub yang berseberangan. Namun, realita kebangsaan saat ini justru menunjukkan sebaliknya: keterlibatan santri dalam memahami politik parlemen bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis untuk menjaga arah bangsa.
Politik sebagai Instrumen Kemaslahatan bagi santri
Politik bukanlah tentang kekuasaan semata, melainkan tentang tasharruful imam ‘ala ra’iyyah manuthun bil maslahah—tindakan seorang pemimpin atas rakyatnya harus didasarkan pada kemaslahatan.
Memahami parlemen berarti memahami bagaimana instrumen kebijakan dibuat. Jika santri—yang memiliki basis moral dan integritas yang teruji—memilih abai terhadap politik, maka ruang-ruang legislasi akan berisiko diisi oleh pihak-pihak yang tidak memiliki komitmen terhadap nilai-nilai keadilan sosial dan kesejahteraan umat. Dengan demikian, literasi politik menjadi bagian dari cara santri menjaga keberlangsungan nilai-nilai kebaikan di level negara.
Literasi Politik sebagai Bekal Masa Depan
Bagi santri yang masih menuntut ilmu, mempelajari tata negara dan mekanisme parlemen adalah bentuk persiapan diri untuk menjadi pemimpin masa depan. Literasi ini melengkapi kecakapan mereka dalam memahami hukum agama (fiqh) dengan kecakapan memahami hukum negara
Rizieq Alman santri Pondok Pesantren Nurul Hidayah Al Khodijiyyah melihat bahwa banyak santri yang masih terjebak dalam dikotomi bahwa politik adalah dunia yang terpisah dari kehidupan pesantren. Namun, ia memiliki argumen yang lugas: politik tidak pernah berhenti beroperasi meski kita memilih untuk tidak memperhatikannya.
| Foto: Dok. (Hasanudin) Dari Pesantren Menuju Parlemen, Rizieq Alman: Banyak santri yang masih terjebak dalam dikotomi |
" Kita mungkin memilih untuk tidak terlibat dalam hiruk-pikuk politik, tapi kita tidak bisa lari dari dampak kebijakan yang lahir dari ruang-ruang rapat parlemen," ujar Rizieq.
Baginya, setiap kebijakan publik—mulai dari anggaran pendidikan pesantren hingga regulasi yang menyangkut hajat hidup masyarakat—ditentukan melalui proses politik yang terus berjalan setiap harinya.
" Pada akhirnya, belajar politik bukan lagi soal ambisi kekuasaan, melainkan soal tanggung jawab keberagamaan dan kebangsaan. Sebab, politik adalah ruang di mana kebijakan publik dirumuskan; ia adalah dapur bagi nasib rakyat banyak," terangnya.
" Jika orang-orang baik dan berilmu memilih untuk menutup diri dari politik, mereka sejatinya sedang menyerahkan masa depan bangsa ke tangan orang-orang yang mungkin tidak memiliki niat untuk berbuat baik. Maka, bagi santri, memahami politik adalah bentuk menjaga amanah, memastikan bahwa kebijakan yang lahir dari ruang-ruang parlemen tetap berpijak pada nilai-nilai keadilan dan kemaslahatan," bebernya.
Hasanudin