| Foto: Dok. (Net) Seniman dan budayawan Sunda Harry M. Sastrakusumah menegaskan bahwa motif Batik Beasan merupakan salah satu identitas budaya khas Cianjur yang sarat akan makna filosofis. Motif tersebut terinspirasi dari bulir padi dan beras sebagai simbol kehidupan masyarakat agraris (Gambar istimewa) |
SUARA CIANJUR | CIANJUR – Seniman dan budayawan Sunda Harry M. Sastrakusumah menegaskan bahwa motif Batik Beasan merupakan salah satu identitas budaya khas Cianjur yang sarat akan makna filosofis. Motif tersebut terinspirasi dari bulir padi dan beras sebagai simbol kehidupan masyarakat agraris.
Harry menjelaskan, motif Batik Beasan diciptakannya bersama LP3EM HIBAR dan Koperasi Batik Beasan Cianjur. Karya tersebut kemudian didaftarkan sebagai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) pada 2009.
Penjelasan itu disampaikan Harry saat ditemui di kediamannya, Gedong Asem Kaum, Cianjur, dalam sesi wawancara pada Kamis (9/7/2026).
"Makna filosofis motif Beasan melambangkan kesuburan, kesejahteraan, rezeki, dan kemakmuran. Bagi masyarakat Cianjur, tanaman padi dan beras merupakan sumber kehidupan serta anugerah alam yang harus senantiasa disyukuri," ujar Harry.
Menurutnya, Batik Beasan yang dipopulerkan melalui LP3EM dan Koperasi Batik Beasan Cianjur merupakan representasi artistik Cianjur sebagai daerah agraris sekaligus lumbung padi di Jawa Barat.
Harry menjelaskan, istilah "Beasan" berasal dari kata "beas" dalam bahasa Sunda yang berarti beras atau padi. Istilah tersebut kemudian diwujudkan ke dalam motif batik dengan pola simetris maupun asimetris yang dipadukan dengan ornamen gabah, bulir, dan bunga padi.
"Istilah 'Beasan' berasal dari kata 'beas' yang berarti beras atau padi. Motif ini diaplikasikan dalam berbagai pola dengan tambahan ornamen gabah, bulir, dan bunga padi," jelasnya.
Lebih lanjut, Harry mengatakan bahwa penciptaan motif Batik Beasan merupakan bentuk inovasi sekaligus upaya pelestarian budaya untuk menghadirkan pakem atau identitas khas Batik Cianjur.
Ia menuturkan, pemilihan warna pada Batik Beasan mengadopsi nuansa alam, seperti hijau, cokelat, ungu, dan kuning, yang merepresentasikan kekayaan hasil bumi Cianjur.
"Motif beras dan padi melambangkan kemakmuran, kesuburan, serta ketahanan pangan masyarakat. Sementara warna-warnanya terinspirasi dari alam dan hasil bumi," ungkap Harry.
Menurutnya, Batik Beasan tidak hanya menjadi identitas budaya daerah, tetapi juga memperkuat citra Cianjur sebagai salah satu penghasil beras berkualitas di Jawa Barat.
Selain motif Beasan, Harry mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim juga menciptakan motif "Galuh Mukti" sebagai salah satu ikon batik kebanggaan masyarakat Cianjur.
"Selain Beasan, kami juga menciptakan motif Galuh Mukti yang menjadi ikon kebanggaan masyarakat setempat. Gagasan dan karya ini merupakan bagian dari upaya pelestarian Batik Cianjuran agar memperoleh pengakuan dan penghargaan di tingkat nasional," pungkasnya.
Goesta