Membawa Keranda Mayat depan Mabes Polri, Koordinator LAKSI Soroti Aksi Demo Mahasiswa

suaracianjur.com
Juli 05, 2026 | 18:55 WIB Last Updated 2026-07-05T11:59:43Z
Foto: Dok. (Net) Membawa Keranda Mayat depan Mabes Polri, Koordinator LAKSI Soroti Aksi Demo Mahasiswa (Gambar istimewa)

SUARA CIANJUR | JAKARTA - Aksi demontrasi Mahasiswa yang membawa keranda mayat di depan Markas Besar Polri, pada Rabu, 1 Juli 2026, bertepatan dengan HUT Bhayangkara ke-80 mendapat sorotan tajam dari Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI).

Dalam pers rilisnya Koordinator LAKSI Azmi Hidzaqi mengatakan bahwa aksi demonstrasi yang telah dilakukan oleh BEM UI memicu kontroversi publik, akibatnya beredar narasi dan tuntutan di media sosial yang memuat kebencian dan provokatif terhadap institusi polri. 

" Aksi bertajuk "Matinya Reformasi Polri" dinilai sebagai bentuk penggiringan opini liar yang tidak berdasar sehingga masyarakat memandang aksi BEM UI ini bukan sebagai bentuk kritik murni tetapi sudah di tunggangi oleh kepentingan tertentu," tulisnya, Minggu (5/7/2026).

Dalam orasinya, lanjut Azmi, mereka menyuarakan berbagai tuntutan evaluasi reformasi sektor kepolisian, yang berisi pencabutan Undang-Undang Polri, serta pembatasan peran aparat di ruang sipil, namun dalam aksi tersebut menampilkan ilustrasi yang dianggap merendahkan marwah institusi polri. 

" Atas dasar itulah kami melontarkan kritik tajam terkait hal itu melalui pernyataan pers rilis, kami mengecam aksi yang membawa simbol keranda mayat saat HUT Bhayangkara polri, sangat tidak pantas dan karena simbol tersebut dianggap tidak etis, dan dianggap provokatif serta berpotensi memicu ketegangan di ruang publik," ungkapnya.

Sambung Azmi, walaupun hak menyampaikan pendapat dilindungi konstitusi, namum aksi demontrasi yang dilakukan pada saat bertepatan dengan hari HUT Bhayangkara Polri dengan narasi mati nya reformasi polri merupakan penggiringan opini sesat yang tidak berdasar. 

" Tindakan provokatif tersebut tidak hanya merugikan masyarakat luas, tetapi juga bisa merusak citra polri," tandasnya.

Azmi juga menyatakan bahwa demo di hari ulang tahun ke 80 Bhayangkara dinilai tidak tepat karena dapat dianggap sebagai bentuk sarkasme atau "hadiah" yang provokatif. Sebab aksi BEM UI ini bisa berpotensi memicu ketegangan fisik di lapangan, mengganggu ketertiban umum, dan mengalihkan perhatian publik dari substansi tuntutan massa. 

" Gerakan demo mahasiswa tersebut sangat rawan ditunggangi oleh kelompok kepentingan tertentu yang punya agenda merusak citra Polri di saat momen sakral peringatan Hari Bhayangkara. Oleh sebab itulah banyak pihak mengecam aksi unjuk rasa tersebut karena dinilai anarkis, mengganggu fasilitas umum, memicu kemacetan, hingga membebani ekonomi masyarakat akibat kericuhan yang terjadi. Kecaman juga muncul karena gelombang demonstrasi dianggap bermuatan politis," bebernya.

Lebih lanjut Azmi menjelaskan, delapan puluh tahun perjalanan Polri merupakan capaian historis yang patut dihargai. Dalam rentang waktu tersebut, Polri telah menjadi bagian penting dari perjalanan Bangsa. 

" Dari masa mempertahankan kemerdekaan, menghadapi berbagai ancaman keamanan nasional, mengawal transisi demokrasi, hingga hadir di tengah masyarakat dalam berbagai situasi bencana dan keadaan darurat. Tidak sedikit anggota Polri yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan nyawa demi menjalankan tugas negara. Karena itu, tidak ada alasan untuk menafikan kontribusi Polri bagi Bangsa ini," tandasnya.

Red



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Membawa Keranda Mayat depan Mabes Polri, Koordinator LAKSI Soroti Aksi Demo Mahasiswa

Trending Now

Iklan