| Foto: Dok. (Indra SC) Sebanyak 1.910 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, menerima bantuan pangan pemerintah untuk periode Juli-September 2026. Jumlah itu stagnan dibanding periode sebelumnya |
SUARA CIANJUR | CIPANAS — Sebanyak 1.910 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, menerima bantuan pangan pemerintah untuk periode Juli-September 2026. Jumlah itu stagnan dibanding periode sebelumnya.
Bantuan berupa beras 30 kilogram per KPM. Acuan penerima adalah Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Hanya warga desil 1 sampai 4 yang masuk kriteria.
Kepala Seksi Kesra Desa Sindanglaya, Gunawan Wibiksan, membenarkan jumlah penerima tidak berubah.
“Jumlahnya tetap, sebanyak 1.910 KPM. Tidak ada penambahan maupun pengurangan,” kata Gunawan, Senin (21/9/2026).
Masalah muncul di akurasi data. Di lapangan, desil DTSEN dinilai tidak mencerminkan kondisi ekonomi warga. Warga yang merasa layak dibantu tercatat desil 5 ke atas sehingga gugur. Sebaliknya, warga yang dinilai mampu justru masuk desil rendah.
Desa, kata Gunawan, tidak punya kewenangan mengubah desil. Peran desa sebatas mengusulkan pembaruan data untuk diverifikasi ulang.
“Kami tidak bisa menurunkan desil. Yang bisa dilakukan adalah pengusulan pembaruan data,” ujarnya.
Pembaruan bisa diajukan warga secara mandiri melalui kanal resmi pemerintah atau lewat desa. Syaratnya melampirkan kartu keluarga, foto rumah luar-dalam termasuk kamar mandi, titik koordinat, pekerjaan, pendapatan, dan pengeluaran.
| Foto: Dok. (Indra) Bantuan berupa beras 30 kilogram per KPM. Acuan penerima adalah Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Hanya warga desil 1 sampai 4 yang masuk kriteria |
Desa membuka layanan asistensi, terutama bagi lansia dan warga dengan keterbatasan akses digital.
Menurut Gunawan, keluhan terbanyak datang dari warga desil 5-10 yang tak masuk kriteria bantuan. Dampaknya merembet ke bantuan lain seperti Program Indonesia Pintar (PIP) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang juga merujuk pada basis data sosial ekonomi yang sama.
Reporter: Indra