S.Jai: Sastra Sebagai Pembuka Cakrawala

SUARA CIANJUR
Desember 22, 2019 | 22:38 WIB Last Updated 2020-09-05T20:11:55Z
 S.Jai: Sastra sebagai pembuka cakrawala

SUARA CIANJUR  ■ Pada hari Minggu (22/12), STKIP PGRI Ponorogo kembali menyelenggarakan kegiatan Sekolah Literasi Gratis Jilid 2. Bertempat di Graha Saraswati, hadir sebagai pemantik literasi pada kesempatan tersebut adalah S. Jai, peraih Anugerah Sutasoma 2019.

“Semua khalifah di bumi harus menciptakan realitas bahasa," ungkap S. Jai saat menyampaikan materi.

S. Jai menjelaskan, perihal sastra postmitos. Menurutnya, seiring perkembangan waktu mitos memiliki banyak arti. Mitos adalah segala sesuatu yang terdapat pesan di dalamnya. Setiap pesan adalah ideologi dan spirit dari postmitos adalah upaya-upaya melawan sesuatu tentang mitos.

“Sastra bukan menawarkan satu kebenaran, tetapi untuk membuka cakrawala. Maka sastra sebaiknya menjauhi pesan. Karena sastra pun berpeluang bebas untuk kemudian menjadikan dirinya mitos,” tambahnya.

Dihadapan para peserta SLG 2 yang dihadiri oleh pelajar, mahasiswa, dan kalangan umum. S. Jai menceritakan proses kreatifnya dalam dunia kepenulisan. Yakni bermula dari sebuah buku bertajuk "Peladang Yang Loba" karangan Djauhari yang ia baca ketika kelas 4 SD dan buku kumpulan puisi-cerpen Pujangga Baru susunan HB. Jassin yang dulu dibawa oleh ayahnya ketika bekerja di kediaman staff pabrik gula. Ia mulai menekuni sastra sampai sekarang.

Ia mengenang bahwa novel Pabrik karya Putu Wijaya juga menjadi saksi dalam proses kreatifnya disamping bermodal berita yang tidak di terima oleh redaksi dan banyak tulisan jurnalistik yang tidak di muat, ia tetap teguh karena menjadi penulis berkaitan dengan tanggung jawab keilmuan.

Lelaki kelahiran Kediri itu menyinggung tentang pentingnya membaca untuk menciptakan sebuah karya, membaca adalah sebuah tanggung jawab bagi seorang penulis karena mustahil apabila seseorang penulis sastra tidak membaca karya sastra, kritik sastra, dan teori sastra.

”Untuk menciptakan tulisan yang bagus, kita harus membaca karya yang bagus. Semakin banyak berpraktek, kreativitas dalam menulis terus berkembang,” tutur lelaki penulis novel Kumara-Hikayat Seorang Kekasih itu.


Dimoderatori oleh Adip Arifin, kegiatan Sekolah Literasi Gratis Jilid 2 kali ini juga mendatangkan Puji Santosa, Penerima Satyalancana Karya Satya 30 tahun dari presiden yang memberikan wawasan tentang kunci kesuksesan.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini, model diskusi yang santai tetapi kaya akan wawasan baru menjadikan saya lebih termotivasi untuk menulis,” ungkap Fatin, mahasiswi IAIN Ponorogo.

Jurnalist : Yeni Kartikasari 
Email      : yenny.kartieka@gmail.com

         

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • S.Jai: Sastra Sebagai Pembuka Cakrawala

Trending Now

Iklan