| Foto: Dok. (Rafli) Ruangan 3×3 bagian dari rumah Ustad Ujang Guru ngaji di Kampung Tegalpanjang Mande, menjadi ruangan tempat belajar mengaji |
SUARA CIANJUR | MANDE - Penerapan ilmu agama sejak dini bertujuan membentuk pondasi akidah yang kokoh, membangun moral dan karakter mulia, serta mengenalkan Allah SWT sebagai Pencipta. Ini sangat penting untuk membentengi anak dari pengaruh negatif, membiasakan ibadah, serta menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, dan etika sejak kecil.
Peran Guru Ngaji dalam membentuk karakter generasi emas cianjur sangat penting, tidak berlebihan jika kemudian Guru ngaji mendapat fasilitas yang layak dari Pemerintah, karena jasa dan perannya yang luar biasa.
Guru ngaji, terutama di pelosok daerah, alih-alih diberi fasilitas, keberadaan dan perannya acap kali di pandang sebelah mata, hal tersebut dapat terlihat dari tidak jelasnya juntrungan permasalahan insentif Guru ngaji sampai saat ini di Kabupaten Cianjur.
Seperti yang terjadi di Kp. Tegal panjang RT. 01/02 Desa Mekarjaya Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur, 40 anak harus belajar mengaji di tempat yang sempit, satu rumah panggung kecil di jadikan tempat multifungsi, menjadi tempat tinggal Guru ngaji bersama keluarganya, dan tempat berlangsungnya aktivitas belajar mengaji.
Bangunan rumah panggung tersebut kondisi bangunannya sudah sangat mengkhawatirkan, tiang penyangga bangunan nampak rapuh, dinding biliknya nampak bolong, atapnya sering bocor, meski fasilitasnya tidak memadai, namun jumlah murid kian bertambah, itu karena sosok Gurunya yang ramah, dan metode pembelajarannya yang mudah di serap oleh para muridnya.
Ustad Ujang (56) Guru ngaji di Kampung Tegalpanjang, merasa khawatir terhadap anak didiknya, khawatir ketika aktivitas belajar mengajar sedang berlangsung rumah panggungnya ambruk.
| Foto: Dok. (Rafli) Rumah panggung sederhana milik Ustad Ujang berukuran 5×7 menjadi tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengaji |
" Saya khawatir ketika anak-anak sedang mengaji takutnya rumahnya tiba-tiba ambruk, maklum bangunan rumah panggung 5×7 persegi ini sudah mulai rapuh, kondisinya bisa dilihat sendiri seperti apa, seperti itulah adanya," ujarnya. Jumat (6/2/2026).
" Bahkan kondisi bocor disaat hujan menjadi penghambat aktivitas belajar mengajinya anak-anak, ruangan untuk belajar mengaji ukurannya 3×3," terangnya.
Lanjut Ustad Ujang, di kampung ini banyak orang tua menitipkan anaknya untuk belajar mengaji disini, kurang lebih ada sekitar 40 orang anak setiap harinya belajar mengaji disini.
" Sebetulnya saya bingung juga banyak orang tua menitipkan anaknya belajar mengaji disini, bukan saya tidak mau mengajarkan ilmu agama kepada anak-anak, tapi lihat sendiri kondisinya seperti ini, sempit dan ya gitulah, bisa lihat sendiri gimana kondisinya," katanya.
" Semoga saja ada dermawan yang sudi memperbaiki fasilitas mengajinya anak-anak ini, sekaligus berfungsi sebagai tempat tinggal saya juga," harapnya.
Dirumah yang kecil dan sangat sederhana tersebut. Ustad Ujang tinggal berdua bersama Isterinya, karena Beliau belum memiliki keturunan.
" Saya tinggal disini berdua tanpa ada keturunan, dan kami berdua sangat bersyukur, dan merasa terhormat telah dipercaya masyarakat untuk mengajari anak- anaknya tentang ilmu agama," tuturnya.
Terpisah, Ade Mamat selaku Ketua RT. 01/02 di Kampung Tegalpanjang, menjelaskan bahwa pihaknya sudah berupaya sekuat tenaga membantu agar Ustad Ujang mendapat bantuan bedah rumah, baik dari swasta, maupun pemerintah.
" Sering saya photo, kemudian saya laporkan ke pihak Desa, namun hingga saat ini belum ada keputusan, saya pun selaku ketua erte sangat prihatin melihat kondisi rumah Ustad Ujang, karena rumah Ujang bukan saja menjadi tempat tinggal, melainkan untuk belajar mengaji bagi anak anak di ke- ertean kami," ungkapnya.
" Semoga dengan adanya perhatian dari semua kalangan, yang peduli mengenai keberlangsungan pendidikan keagamaan bagi generasi selanjutnya," harapnya.
Lanjut Erte Ade: " Semua warga disini sangat berempati dengan kondisi Ustad Ujang, warga menilai Ustadz Ujang sebagai pribadi yang baik, Beliau dengan sukarela mau mengajari anak- anak kami ilmu agama, Beliau mengajar tanpa pamrih," pungkasnya.
Rafli hidayat