| Foto: Dok. (Dang/SC) Sekolah Dasar Negeri Sorogol di Kecamatan Cibeber, pekarangannya tampak asri dengan hamparan hijau tanaman sayuran |
SUARA CIANJUR | CIBEBER – Proses belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Di SDN Sorogol, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, peserta didik diajak memperdalam materi pembelajaran melalui kegiatan kokurikuler yang dikemas secara menarik dan aplikatif.
Di jenjang sekolah dasar, terdapat tiga bentuk kegiatan pembelajaran di luar kelas, yakni: kokurikuler, ekstrakurikuler, dan outing class. Masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, namun sama-sama berperan dalam mengembangkan kemampuan serta pengalaman belajar peserta didik.
Di bawah bimbingan Ade Supriadi, salah seorang guru pembimbing kokurikuler SDN Sorogol, kegiatan yang terintegrasi dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) difokuskan pada pembelajaran bercocok tanam.
Bersama guru pembimbing lainnya, Ade memanfaatkan pekarangan sekolah sebagai lahan edukasi. Hasilnya, suasana SDN Sorogol tampak berbeda dibandingkan sekolah dasar pada umumnya. Hamparan tanaman hijau yang tertata rapi menciptakan lingkungan sekolah yang asri sekaligus menjadi ruang belajar terbuka bagi peserta didik.
" Ratusan galon bekas air mineral yang diisi campuran tanah dan pupuk organik kami manfaatkan sebagai media tanam. Inovasi ini lahir dari konsistensi para tenaga pendidik di SDN Sorogol," ujar Ade Supriadi, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, gagasan tersebut berawal dari kepedulian terhadap kondisi lingkungan yang kemudian dipadukan dengan implementasi Program P5.
" Kami terinspirasi oleh kondisi lingkungan sekitar, kemudian mengaitkannya dengan Program Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), sehingga sejak dini peserta didik memperoleh pengalaman langsung mengelola lahan pertanian sekaligus memahami teknik bercocok tanam," jelasnya.
Selain menjadi sarana pembelajaran di luar kelas, program tersebut juga memberikan nilai tambah berupa edukasi pengelolaan limbah plastik melalui pemanfaatan galon bekas sebagai media tanam yang produktif.
" Kegiatan kokurikuler dilaksanakan di luar ruang kelas, tetapi masih berada di lingkungan sekolah. Karena itu kami memanfaatkan pekarangan sekolah dan galon bekas air mineral sebagai media tanam," tuturnya.
Bagi Ade, kegiatan tersebut bukan sekadar mengajarkan cara berkebun, melainkan juga menjadi wadah untuk mengimplementasikan hobi dan keahliannya di bidang pertanian ke dalam proses pembelajaran.
"Melalui Program P5 ini saya mencoba menyalurkan hobi bertani kepada peserta didik agar mereka mendapatkan pengalaman dan pemahaman secara langsung sejak dini," katanya.
Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh proses, mulai dari menanam, merawat, hingga memanen hasil tanaman.
Program itu sendiri telah berjalan sejak tahun 2022 dengan berbagai jenis tanaman yang disesuaikan dengan musim.
"Yang pertama kami tanam di sini sawi, pakcoy, cabai, cengek, sudah banyak berganti-ganti. Saat ini yang sedang ditanam adalah kangkung," ungkap Ade.
Lebih dari sekadar memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik, Ade mengaku bangga karena kegiatan tersebut turut menginspirasi masyarakat sekitar.
" Alhamdulillah kegiatan ini juga menjadi edukasi bagi masyarakat di sekitar sekolah. Ketika saya mulai menanam seperti ini, warga di sekitar ikut menanam di depan rumah masing-masing. Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya," ungkapnya.
" Artinya pendidikan yang kami terapkan bukan hanya bermanfaat bagi anak-anak, tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat. Alhamdulillah bisa membawa manfaat," pungkasnya.
Perbedaan Kokurikuler, Ekstrakurikuler, dan Outing Class
• Kokurikuler: Merupakan kegiatan penguatan atau pendalaman materi pembelajaran yang berkaitan langsung dengan mata pelajaran di kelas, seperti Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), penugasan terstruktur, maupun kunjungan ke perpustakaan. Kegiatan ini bersifat wajib dan menjadi bagian dari penilaian pembelajaran.
• Ekstrakurikuler: Adalah kegiatan pengembangan minat, bakat, dan potensi peserta didik di luar jam pelajaran, seperti Pramuka, olahraga, seni tari, atau paduan suara. Umumnya bersifat pilihan sesuai minat siswa, kecuali Pramuka yang menjadi kegiatan wajib sesuai ketentuan kurikulum.
• Outing class: Merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan di luar lingkungan sekolah, misalnya melalui kunjungan ke museum, kebun binatang, atau sentra industri lokal. Tujuannya memberikan pengalaman belajar secara langsung (experiential learning) sebagai variasi dari pembelajaran di kelas.
Masih di lokasi yang sama, Kepala SDN Sorogol, Kohar Abdullah, menyampaikan apresiasinya terhadap keberhasilan pelaksanaan Program P5 di sekolah yang dipimpinnya. Ia secara khusus memberikan penghargaan kepada para guru pembimbing, terutama Ade Supriadi.
" Saya memberikan apresiasi kepada para guru pembimbing, terutama Pak Ade Supriadi. Beliau konsisten memberikan pengalaman belajar yang berbeda kepada peserta didik di luar kelas," ujarnya.
Menurut Kohar, pelaksanaan program serupa belum tentu dapat ditemukan di setiap sekolah dasar.
" Saya melihat di sekolah lain kegiatan seperti ini belum berjalan secara maksimal. Itulah yang membuat saya bangga terhadap dedikasi para guru pembimbing dan semangat belajar para peserta didik," katanya.
Ia menegaskan bahwa berbagai pencapaian yang diraih SDN Sorogol merupakan hasil kerja sama seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, peserta didik, hingga orang tua. Meski demikian, ia berharap adanya perhatian dan dukungan lebih dari Pemerintah Kabupaten Cianjur, khususnya Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora).
" Kami berharap adanya dukungan dari Disdikpora Kabupaten Cianjur agar berbagai pencapaian yang telah diraih dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Semua ini tidak mungkin terwujud tanpa kerja sama para guru, peserta didik, dan orang tua. Mudah-mudahan ke depan ada perhatian atau bantuan khusus dari pemerintah bagi sekolah dasar yang terus berinovasi," harapnya.
Dang