Bangun Negara dari Kejujuran Hati dan Laku

SUARA CIANJUR
September 23, 2019 | 22:05 WIB Last Updated 2020-09-05T20:16:29Z



Judul : Dari Jalanan Menuju Senayan: Catatan Tepi Waktu Gus Anton
Penulis : Intan B. Permata Ayu, Solihan Arif, Achmad Shadiqin, Abdul Qadir Amir Hartono
Penerbit: Inteligensia Media
Cetakan : Pertama, Januari 2019
Tebal : 211 halaman
ISBN : 978-602-5562-74-7

Abdul Qadir Amir Hartono lebih dikenal dengan Gus Anton. Laki-laki kelahiran Sumenep, saat ini duduk di Komite I DPR RI. Sosoknya yang ramah, sederhana, baik, dan selalu membantu siapapun yang kesulitan menjadi inspirasi generasi muda bangsa. Baginya, hidup harus memeluk kawan dan merangkul lawan (hal. 142).

Buku Dari Jalanan Menuju Senayan: Catatan Tepi Waktu Gus Anton merupakan buku perjalanan tentang kehidupan, pendidikan, karir, hingga perjalanan dalam mengemban amanah negara sebagai seorang Anggota DPR-RI. Prinsip kerja politik Gus Anton adalah kejujuran. Ia selalu menerapkan kejujuran dalam segala hal. Kejujuran yang dimainkan dalam berpolitik dilakukan dengan meniru Nabi Muhammad saw, yakni politik islami tidak mengandung SARA.

Mengabdi terhadap nusa dan bangsa bagi Gus Anton adalah jalan mulia. Karenanya, jujur adalah kunci utama dalam bersosial. Selain itu, ringan tangan, mau berbuat baik kepada semua orang, dan tidak pilih-pilih teman akan meningkatkan kekuatan solidaritas antarsesama. Gus Anton percaya, kekuatan solidaritas akan mempermudah dalam; membangun dan memersatukan tujuan negara, mengalahkan musuh, dan mempertahankan diri. Sebab, pengabdian di DPR RI  adalah berhidmat untuk negeri.

Aroma kekeluargaan, saling silahturahmi yang dikemas dengan edukasi politik menjadi trik tersendiri baginya. Wujud pengabdian berpolitik dilakukan dengan tidak bergaya material, karena politik yang sesungguhnya adalah santun, tidak merugikan salah satu pihak. Politik uang misalnya, sesungguhnya bukanlah politik yang didambakan negara. Karena yang ada akan melahirkan tikus-tikus berdasi dengan gaya provokasi.

Kerja politik sesungguhnya kerja jangka panjang untuk membuat sebuah tatanan masyarakat seperti yang dicita-citakan pendiri bangsa sesuai pembukaan Undang-Undang 1945 (hal. 91). Sehingga prinsip kejujuran berpolitik yang dimodeli Gus Anton penting dijadikan teladan generasi bangsa. Jangan beralasan untuk diri, melainkan untuk orang lain. Terlebihnya untuk negara dan bangsa tercinta.

Kejujuran laku Gus Anton serupa energi gerak positif  di dunia politik. Meski terkesan muda dibandingkan dengan anggota lain, sosoknya disegani banyak orang. Sebutlah Soekarwo, gubernur Jawa Timur. Tuturnya pada halaman sambutan buku, bahwa Gus Anton memiliki tiga prinsip yang dipegang dalam kehidupan berpolitik maupun keseharian. Di antaranya adalah prinsip kejujuran, kesederhanaa, dan amanah (hal.14).

Sementara itu, kejujuran hati Gus Anton adalah gerak hati membantu siapapun yang mengalami kesulitan. Tak mengharap apresiasi, pujian, dan lainnya sikap ringan tangan itu adalah ajaran keluarga besarnya. Seperti yang teralami Gus Anton saat pilkada serentak 2018, jujur, adil, dan benar dilakukan dengan niatan menjadi pemimpin yang berkualitas, pro rakyat, inovatif, dan mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Membantu, meringankan rakyat adalah wujud nyata ketulusan hati bekerja untuk rakyat.

Membaca Gus Anton dalam berpolitik adalah gambaran pemimpin dambaan negara. Tidak semata-mata bekerja untuk dirinya, melainkan untuk negara—sebuah kelebihan jiwa pariotisme. Pesan Gus Anton dalam merawat dan berbuat baik, serta berbakti kepada negara, hanya satu, “Jangan Korupsi!” Bertindak jujur, sederhana, dan amanah terhadap tugas negara.

Tak lupa menolong orang lain akan membawa diri pada pandangan dan persepsi orang terhadap diri. Karena itu, kejujuran hati dan laku penting dijadikan modal menjadi sosok pemimpin masa kini. (Suci Ayu Latifah, Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bangun Negara dari Kejujuran Hati dan Laku

Trending Now

Iklan