Satu Keluarga Tinggal Dirumah Lapuk: Dalam Rempug Warga di Desa Mekarjaya Berharap Dapat Kesempatan Sampaikan Keluh Kesah

suaracianjur.com
Februari 24, 2026 | 22:31 WIB Last Updated 2026-02-24T15:41:31Z
Foto: Dok. (Joy) Kamar utama nampak hancur

SUARA CIANJUR | MANDE - Satu keluarga pra sejahtera di Kp. Tegal Panjang RT. 02/02 Desa Mekarjaya Kecamatan Mande Kabupaten Cianjur ditengah gempuran kesulitan ekonomi tetap optimis menata kehidupan untuk masa depan anaknya. Anak menjadi sumber kekuatan untuk tetap optimis merajut asa, merangkai dan menata kembali setiap simpul yang pudar dihempas badai kehidupan.

" Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, suami bekerja serabutan di bengkel las dengan upah Rp50 ribu per hari. Namun pekerjaan itu tidak menentu, hanya ada jika terdapat pesanan seperti pembuatan kanopi atau pagar," ujar Resmi Andini Mulyadi, Selasa (24/2/2026).

" Seminggu kerja, tiga minggu nganggur. Kalau ada pesanan baru dipanggil ke bengkel,” jelasnya.
Foto: Dok. (Joy) Ruangan lainnya mengalami kerusakan serius 

Dengan penghasilan sang suami yang tidak pasti, Ibu Rumah tangga berumur (36) tersebut, harus memutar otak demi mencukupi kebutuhan rumah tangga, dan kebutuhan sekolah anaknya. Terkadang untuk sekadar memberi uang bekal sekolah kepada anak-anaknya pun kerap tidak mampu.

" Kalau ada uang dikasih bekal, kalau tidak ada ya tidak dikasih. Tapi alhamdulillah anak saya tetap berangkat sekolah meski harus jalan kaki, karena pendidikan sangat penting, saya dengan suami terus berjuang agar anak- anak kami tetap bersekolah ke jenjang pendidikan lebih tinggi," tuturnya.
Foto: Dok. (Joy) Kamar anak- anak atapnya bocor

Meskipun hatinya kerap teriris saat mendengar cerita anaknya yang menahan lapar di sekolah. Ia juga menceritakan kondisi rumahnya yang nampak sudah tidak layak huni, kamar utama dinding biliknya sudah hancur, kamar anaknya bocor disana- sini karena memang sudah tidak ada gentingnya, saat hujan turun terpal spanduk menjadi alat pengganti genting.

Kondisi yang sama nampak diruang tamu, dan ruangan lainnya, bahkan agar tidak ambruk kanopi rumah di topang bambu. Saat hujan angin menerpa Kecamatan Mande dan sekitarnya, rumahnya berderit mengeluarkan suara kecemasan. Kondisi tersebut yang menyebabkan setiap malamnya keluarga ini dihantui kecemasan, takut rumah yang mereka tinggali sewaktu- waktu ambruk.

" Satu kamar telah ambruk. Sementara kamar lainnya mengalami kebocoran parah setiap kali hujan turun. Akibatnya, saya, suami, dan anak- anak terpaksa tidur di tengah ruangan demi menghindari reruntuhan dan tetesan air hujan," lirihnya.
Foto: Dok. (Joy) Terpal bekas spanduk atau baligo di manfaatkan sebagai penutup atap pengganti genting 

" Rumah yang kami tinggali ini peninggalan orang tua, bukannya kami tidak mau merawat warisan orang tua, namun memang tidak memiliki uang untuk merenovasinya, setiap malamnya kami dihantui kecemasan," bebernya.

Lanjut Resmi: " Bunyi deritan kayu lapuk di atap rumah semakin menambah kecemasan," ungkapnya.

" Suami tidak berani naik untuk membetulkan atap, karena kayunya sudah pada lapuk

Untuk bertahan hidup, keluarga ini kerap memanfaatkan dedaunan seperti daun singkong atau sintrong untuk dijadikan lauk pendamping nasi.
Foto: Dok. (Joy) Atap ruang tamu biliknya menjuntai ke bawah

" Anak saya pernah cerita, teman-temannya ngajak jajan. Dia pura-pura nulis saja dan bilang sudah makan di rumah. Siapa ibu yang tidak sedih dengar cerita begitu. Kadang pulang sekolah cuma minum air putih,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Selanjutnya ia mengatakan pernah menghadiri acara Bupati Cianjur, Rempug Warga yang dilaksanakan di setiap desa, ia datang ke acara tersebut dengan harapan ingin menyampaikan keluh kesahnya langsung kepada Bupati Cianjur.

" Saat Bupati Cianjur menggelar rembug warga di Kampung Pawati dua bulan lalu, saya berupaya hadir meski dalam kondisi kurang sehat, berharap bisa menyampaikan langsung keluhan. Namun upaya saya gagal karena pengawalan yang ketat," katanya.
Foto: Dok. (Joy) Rumah keluarga Resmi nampak dari luar 

Harapannya kami sederhana, tidak menuntut rumah mewah atau bantuan penuh, hanya ingin merenovasi rumah dan anak- anaknya tetap bersekolah.

" Asal atap tidak bocor dan tidak takut roboh saja dulu. Lantainya tanah juga tidak apa-apa, nanti saya dan suami bisa kerjakan pelan-pelan. Yang penting anak-anak bisa tidur tenang, dan besoknya tetap bersekolah," harapnya.

Terakhir Ia berharap pemerintah daerah maupun pemerintah desa dapat turun langsung melihat kondisi rumahnya yang dinilai sudah sangat tidak layak huni.

" Keadaan rumah saya pengen dilihat langsung. Saya benar-benar orang tidak mampu. Minimal ada perhatian supaya kami bisa berteduh dengan aman,” pintanya.

Joy
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Satu Keluarga Tinggal Dirumah Lapuk: Dalam Rempug Warga di Desa Mekarjaya Berharap Dapat Kesempatan Sampaikan Keluh Kesah

Trending Now

Iklan