Kisah Warga Cikahuripan Sukabumi Robohkan Rumah Kades

suaracianjur.com
April 10, 2024 | 12:52 WIB Last Updated 2024-04-10T06:00:32Z
Foto: Dok. SC. Jaro Midun kades yang dicintai warganya (Foto: Syahdan Alamsyah/detikJabar)

SUARA CIANJUR | SUKABUMI - Kecintaan warga terhadap sosok pemimpin yang dinilai amanah dan jujur oleh warganya tergambar dalam cerita seorang pria bernama Heri Suryana. 

Ia adalah seorang (Kades)Kepala Desa Cikahuripan di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.
2017 silam, pria yang akrab disapa Jaro Midun ini viral di media sosial. Rabu, (10/4/2024). 

Kisah rumahnya yang dirobohkan warga menjadi buah bibir tidak hanya di Kabupaten Sukabumi tapi juga menyebar dengan cepat di berbagai grup media sosial facebook.

"Alasan warga merobohkan rumah karena pertama rumah saya jelek, kemudian bocor di sana-sini. Kebetulan ada beberapa warga yang datang ke rumah silaturahmi, saat itu situasi hujan deras," cerita Jaro Midun kepada detik Jabar Jumat (28/7/2023).

Midun menyebut peristiwa itu terjadi sekitar bulan Juli tahun 2017, warga yang datang keheranan karena melihat rumah tinggal Kades mereka yang bisa dibilang tak layak huni dan jelek. Padahal, Jaro Midun dikenal aktif melakukan bedah rumah untuk warganya.

"Saat itu memang jadi buah bibir, warga cerita lah waktu itu karena saya sendiri banyak membedah rumah menyalurkan bantuan dan memperjuangkan rumah masyarakat Cikahuripan yang tidak layak huni untuk mendapat bantuan rehab rumah tidak layak huni dari pemerintah," ujar Jaro Midun.

"Nah masyarakat melihat sendiri saat itu, sebenarnya saya juga malu ya. Kondisi hujan deras, bocor dimana-mana saat itu warga nyeletuk robohkan saja rumahnya," kisah Midun.

Midun kemudian menimpali ucapan warganya itu, ia menjelaskan kalau dirobohkan harus punya uang. Sementara sebagai kades, penghasilan tidak seberapa.

"Saya sambil nawuan (menguras) air di dapur karena bocor akibat hujan saya bilang dak kalau dirobohkan harus punya uang. Mau uang dari mana, warga kembali menjawab katanya cicing we des (diam saja pak kades)," tutur Midun menirukan ucapan warganya saat itu.

Cerita itu kemudian berlalu begitu saja, Jaro Midun sendiri tidak mengingat-ingat percakapan singkat antara dia dan warganya itu. Hari itu Jumat (6/7/2017), seperti biasa Midun menjalani aktivitas sebagai kades, ia berpamitan kepada istrinya untuk menghadiri acara walimahan salah seorang warganya

Di tengah acara, Midun yang saat itu menjadi saksi pernikahan dihubungi sang istri yang memintanya untuk segera pulang karena banyak warga yang berkumpul di rumahnya. Semakin lama, menurut sang istri warga yang datang semakin banyak.

"Waktu menghadiri acara pernikahan warga jam 08.00 WIB walimahan, si ibu nelepon ke saya katanya abi pulang ieu kunaon ngarariung kieu warga (ini kenapa warga berkumpul) saya yang saat itu memang tidak tahu apa-apa hanya menjawab da eweuh nanaon (tidak ada apa-apa)," tutur Midun.

"Enggak lama istri nelepon lagi, katanya perabotan lemari semua yang ada di rumah di angkut keluar. Karena penasaran saat itu saya berpamitan ke yang punya hajat untuk pulang ke rumah," sambungnya.

Selama diperjalanan, berbagai pertanyaan membebani kepala Midun. Ia sama sekali tidak ingat pembicaraan dengan warga soal rencana merobohkan rumahnya beberapa waktu lalu. Ternyata rencana itu benar-benar dilakukan oleh warga.

"Ketika sampai rumah alangkah kagetnya saya, rumah ternyata sudah ditarik warga untuk dirobohkan. Warga satu komando semua 'bagi rata-bagi rata' sampai akhirnya rumah benar-benar sudah roboh. Saya bilang ke warga, lur kunaon ieu teh saya teh euy (kenapa ini ada apa)," ungkap Jaro Midun.

Warga saat itu meminta Jaro Midun untuk diam saja, menurut warga mereka malu punya kepala desa sementara rumahnya kurang layak ditempati.

"Warga bilang cicing we des (kades diam saja), saya bilang ke mereka sebelumnya harus ada uang. Tapi mereka minta saya diam saja, dan warga yang akan membangun lagi dengan kondisi lebih bagus," ucap Jaro Midun.

Singkat cerita rumah sang kades pun dibangun, jauh lebih layak. "Sekarang rumahnya permanen, awalnya hanya pakai bilik. Kejadian itu di periode saya menjabat, saya mencalonkan tahun 2013 masa jabatan habis 2019, kemudian nyalon lagi dan alhamdulillah terpilih lagi mengemban amanah sampai sekarang," kata Midun.

"Saya jadi Kades itu awalnya juga enggak mau, hanya memang banyak warga yang meminta sampai mungkin ya petunjuk Allah SWT karena awalnya tidak terpintas dalam hati ini menjadi kades. Selama ini memang aktif di berbagai kegiatan masyarakat, DKM Masjid, organisasi kepemudaan saya aktif. Mungkin ya akhirnya dicalonkan untuk maju," pungkasnya.

(Red)


Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Kisah Warga Cikahuripan Sukabumi Robohkan Rumah Kades

Trending Now

Iklan