Gegara Induk Jaringan Irigasi Cisalak Batu Sahulu Tidak Berfungsi, Petani di Sukaresmi Merugi, Hektaran Lahan Persawahan Alami Krisis Air

suaracianjur.com
Januari 08, 2026 | 13:20 WIB Last Updated 2026-01-08T06:34:30Z
Foto: Dok. (Goesta) Kondisi bangunan induk Irigasi cisalak batu sahulu mengalami kebocoran setelah beberapa hari selesai pembangunannya. 

SUARA CIANJUR | SUKARESMI - Penelusuran awak media dari beberapa sumber tokoh masyarakat dan pemerintahan desa setempat, diketahui bahwa sejak awal pembangunan, hingga rampung pembangunannya, induk jaringan irigasi (DI) Cisalak Batu Sahulu hanya berfungsi beberapa hari, setelah mengalami keretakan dan kebocoran, hingga dilakukan penyetopan pasokan air untuk perbaikan jaringan irigasi, imbasnya para petani di desa cikancana dan padajaya mengalami kerugian, serta ribuan hektar persawahan mengalami krisis air.

Seperti yang di ungkapkan Nanang selaku Kepala Desa Cikancana, menurutnya sejak pembangunan irigasi di mulai banyak sekali keluhan dari warganya.

" Sejak pembangunan hingga selesainya pembangunan induk jaringan irigasi cisalak batu sahulu, saya kerap menerima keluhan dari masyarakat, mulai dari keluhan penutupan saluran air ke persawahan warga, lambannya pembangunan, dan keterlambatan pembayaran tukang," ungkapnya, Rabu (7/1/2026).

Sambung Nanang. Karena sebagian warga saya ikut bekerja dalam pembangunan irigasi, warga mengeluhnya ke saya bukan ke pemborong.

" Terhambatnya pasokan air membuat aktivitas pertanian dalam beberapa bulan vakum, apalagi mentraktor lahan persawahan, kan membutuhkan pasokan air yang cukup," bebernya.

" Sekarang setelah 4 hari selesai, bangunannya udah jebol lagi, berarti pengerjaannya tidak benar, kalau komposisi material bangunannya benar, kualitas bangunan akan bagus, tidak akan pecah- pecah, dengan adanya perbaikan lagi, pasokan air ke persawahan warga jadi terhambat, warga ngeluhnya ke Kades lagi, pemerintah pusat tolong bantu pertegas, karena sesuai atau tidak sesuainya pembangunan irigasi bukan kewenangan Kades, itu urusan atas," paparnya.
Foto: Dok. (Goesta) Selain mengalami kebocoran juga mengalami keretakan di dinding TPT nya.

Lanjut Kades Nanang: " Anggaran pembangunan induk Irigasi cisalak batu sahulu Rp. 429.698.251,- tidak kecil, pihak pemborong jangan terlalu mengambil keuntungan besar, sewajarnya saja," tandasnya.

" Jikalau dalam seminggu ini air tidak mengalir ke persawahan warga, kami bersama warga akan mempertanyakan langsung ke pemborong, karena tiga hari yang lalu masyarakat akan melaksanakan pentelaktoran lahan persawahannya, tapi tiba-tiba pasokan air terhenti," tuturnya.

" Pemerintah sedang menggalakkan program pertanian untuk mensukseskan program ketahanan pangan, tapi bagaimana mau beraktivitas, jika pasokan air ke lahan pertanian tidak ada, adanya pembangunan irigasi ini warga kami malah tambah susah, untuk mendapatkan air gotong royong lagi," katanya.

Menanggapi terhentinya pasokan air ke persawahan warga. Tokoh masyarakat berinisial (AD) yang juga aktif di Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Angkat suara, menurut dia, jaringan irigasi induk di Cisalak Batu Sahulu berfungsi untuk mengaliri 1000 hektare lahan persawahan warga.

" Jaringan irigasi induk (DI) di Cisalak Batu Sahulu berfungsi untuk mengaliri 1000 hektare lahan persawahan warga desa cikancana dan desa padajaya," ujar AD kepada awak media, Rabu (7/1/2026).

" Saat pembangunan jaringan irigasi sedang berlangsung, dari bulan Agustus hingga Desember 2025, otomatis saluran air ke lahan pertanian warga jadi terganggu, aktivitas pertanian pun jadi terhambat, imbasnya para petani merugi," ucapnya.
Foto: Dok. (Goesta) Keretakan dinding TPT cukup mengangga.

Selanjutnya AD menjelaskan potensi kerugian yang bakal ditanggung para petani jika jaringan irigasi tidak berfungsi dalam waktu dekat.

" Produksi padi per- hektarnya rata-rata menghasilkan 6 sampai dengan 7 ton, kemudian di kali 1000 hektare, berapa kerugian yang akan ditanggung para petani?," urainya balik bertanya.

" Makanya pembangunan irigasi ini tidak boleh asal-asalan, masa baru empat hari rampung sudah jebol lagi? Nah sekarang kan sudah di stop lagi penyaluran airnya untuk perbaikan, jadi terganggu lagi, mudah-mudahan pihak pemerintah segera dapat mengambil ketegasan terutama dinas terkait yang menangani pengairan," tandasnya.

AD menambahkan, pembangunan jaringan irigasi tidak boleh dibawa main-main, apalagi proyek ini menghabiskan anggaran negara sebesar Rp. 429 juta, manfaatnya harus benar-benar dirasakan masyarakat.
 
" Niat baik Pemerintah dalam menangani permasalahan pertanian di daerah menjadi sia- sia, kalau pembangunan jaringan irigasi dilaksanakan secara asal- asalan, imbasnya fisik bangunan baru beberapa hari sudah mengalami kerusakan cukup serius," jelasnya.

Hal yang sama dilontarkan tokoh masyarakat setempat berinisial HB (Nama jelas ada di redaksi). Ia juga menilai faktor utama penyebab terhentinya pasokan air ke lahan pertanian warga, imbas dari pengerjaan pembangunan induk jaringan irigasi yang terkesan asal-asalan.
Foto: Dok. (Goesta) Lubang kebocoran pada dasar jaringan irigasi.

" Saya merasa heran dengan pembangunan Induk jaringan irigasi, baru beberapa hari selesai, sudah mengalami keretakan dan kebocoran, dengan anggaran Rp. 400juta lebih, dalam kurun waktu seminggu jebol lagi?, inimah kayanya asal- asalan ngabangunna," ungkapnya menggunakan bahasa daerah.

" Ku abdi ditingali eta acian jeung pelesteran bangunan supaya pisan siga nu kurang semen, sok cobi ku tingalian langsung ka lokasi pembangunan, karunya para patani sabaraha bulan ieu lahan sawahna kekurangan cai," ujar HB masih dengan logat daerahnya.

Pembangunan induk jaringan irigasi (DI) cisalak batu sahulu yang berlokasi di Kp. Babakan Ater Desa Cikancana ramai dipersoalkan warga desa cikancana dan desa padajaya, pasalnya baru beberapa hari difungsikan sudah terjadi keretakan dan kebocoran, sehingga lahan pertanian di 2 desa tersebut mengalami krisis air.

Menanggapi hal tersebut UPTD PII (Pelayanan Infrastruktur Irigasi) Kantor Cikalongkulon melalui Pembantu Staff OP menjelaskan.

" Terkait kejadian kerusakan saluran irigasi Cisalak Batu Sahulu yang baru selesai dibangun, pihak UPTD sudah melaporkan dan merekomendasikan ke pihak Dinas Kabupaten agar dibongkar dan diperbaiki kembali," jelas Jaka Staff OP UPTD PII Cikalongkulon.

Disinggung awak media apakah sudah terjadi proses serah terima bangunan, dari pihak pemborong ke pemerintah?.
Foto; Dok. (Goesta) Gambar TPT jaringan irigasi cisalak batu sahulu dari jarak jauh, nampak dalam gambar air keluar dari dinding TPT.

" Sudah PHO, serah terima sudah, tapi kan masih masa pemeliharaan," jawabnya.

Menurut UPTD PII Cikalongkulon sesuai kapasitasnya dan kewenangannya, apakah pembangunan induk jaringan irigasi (DI) cisalak batu sahulu sesuai dokumen perencanaan, baik dari segi kualitas fisik maupun dari segi kuantitas volume pekerjaannya? tanya awak media.

" Untuk lebih jelasnya, lebih baik dipertanyakan ke Dinas Kabupaten ke Kasie Kontruksi, ataupun ke pak Kabid juga boleh, karena pihak UPTD tidak memegang dokumen perencanaan kegiatan, dokumen tersebut ada di pihak Kabupaten dan Konsultan, kami hanya memantau, pengawasan proyek ini pun oleh pihak konsultan," jawabnya.

Saat hendak diwawancarai awak media terkait pembangunan induk jaringan irigasi (DI) cisalak batu sahulu. Kepala UPTD PII Cikalongkulon sedang tidak ada ditempat.

(Goesta)
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Gegara Induk Jaringan Irigasi Cisalak Batu Sahulu Tidak Berfungsi, Petani di Sukaresmi Merugi, Hektaran Lahan Persawahan Alami Krisis Air

Trending Now

Iklan