| Foto: Dok. (SC-AI) Gambar ilustrasi, Berkat Upaya Kepsek, Penelusuran Polemik PIP di SDN Cipinang Mulai Menemukan Titik Terang |
SUARA CIANJUR | CIKALONGKULON – Polemik penyaluran bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) di SDN Cipinang, Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, mulai menemukan titik terang. Kepala SDN Cipinang yang saat ini menjabat, Muhammad Kasim, mengaku melakukan penelusuran langsung dengan mendatangi rumah para penerima manfaat guna mencocokkan data dan mencari solusi atas persoalan yang selama ini dikeluhkan orang tua siswa.
Berdasarkan hasil penelusuran tersebut, Kasim menyebut sebagian besar persoalan berkaitan dengan penyaluran bantuan pada periode kepemimpinan sebelumnya. Ia juga mengungkapkan adanya informasi mengenai keberadaan sejumlah buku tabungan Simpanan Pelajar (Simpel) penerima PIP yang hingga kini belum diketahui secara pasti.
"Berbekal tekad untuk menyelesaikan persoalan penyaluran dana PIP di sekolah yang saya pimpin, pada Minggu, 12 Juli 2026, saya bersama operator sekolah yang baru dan seorang guru mendatangi rumah para penerima manfaat. Tujuannya mencocokkan data sekaligus mencari penyelesaian atas persoalan ini," ujar Kasim, Kamis (16/7/2026).
Menurut Kasim, terdapat 46 siswa penerima manfaat yang belum menerima haknya. Dari jumlah tersebut, 40 siswa merupakan penerima pada masa kepemimpinan kepala sekolah sebelumnya, sedangkan enam siswa lainnya merupakan penerima pada masa kepemimpinannya.
Ia menjelaskan, setelah dilakukan pengecekan ke pihak bank, dana milik enam penerima manfaat tersebut masih tersimpan di rekening. Namun proses pencairan terkendala karena buku tabungan yang digunakan tidak diketahui keberadaannya.
"Setelah berkoordinasi dengan pihak bank dan orang tua siswa, kami sepakat membuat buku tabungan baru dengan tetap mengacu pada nomor rekening lama agar dana yang masih tersimpan dapat dicairkan," katanya.
Penyelesaian Periode Sebelumnya
Terkait persoalan yang terjadi pada periode kepemimpinan sebelumnya, Kasim mengaku telah berulang kali berupaya membangun komunikasi dengan mantan kepala sekolah agar persoalan tersebut dapat diselesaikan.
Menurut Kasim, dalam sejumlah pertemuan yang dihadiri unsur Forkopimcam, Koordinator Pendidikan, Komite Sekolah, dan para orang tua siswa, mantan kepala sekolah disebut telah menyampaikan keterangan mengenai pencairan dana PIP pada masa kepemimpinannya.
"Saya sudah beberapa kali berusaha memfasilitasi komunikasi agar persoalan ini bisa diselesaikan. Untuk mekanisme penyelesaiannya tentu menjadi tanggung jawab pihak yang terkait. Saya sebagai kepala sekolah yang aktif hanya berusaha memfasilitasi agar hak para penerima manfaat dapat terpenuhi," ujar Kasim.
Komite Sekolah: Kepsek Aktif Berupaya Memfasilitasi
Ketua Komite SDN Cipinang, Aep Saepudin, menyatakan kepala sekolah yang saat ini menjabat telah berupaya maksimal memfasilitasi penyelesaian persoalan tersebut.
"Sejak awal Pak Kasim berusaha menjembatani komunikasi dengan para orang tua maupun pihak terkait. Persoalan yang belum selesai sebagian besar berkaitan dengan penyaluran pada periode sebelumnya," kata Aep.
Ia juga mengaku pernah mencoba menghubungi mantan kepala sekolah untuk membantu proses penyelesaian, namun komunikasi tersebut tidak berjalan sebagaimana diharapkan.
Menurut Aep, dalam salah satu pertemuan yang dihadiri unsur Forkopimcam, mantan kepala sekolah juga menyampaikan penjelasan mengenai penyaluran dana PIP pada masa kepemimpinannya serta menyatakan akan berupaya menyelesaikan persoalan tersebut.
Keterangan Guru Rici
Sementara itu, salah seorang guru SDN Cipinang, Rici, yang namanya kerap disebut oleh sejumlah orang tua penerima manfaat karena pernah mengantarkan dana PIP ke rumah siswa, memberikan penjelasan saat dikonfirmasi awak media.
Ia membenarkan bahwa dirinya selama ini bertugas mengantarkan bantuan PIP kepada orang tua siswa.
"Memang selama ini saya yang mengantarkan bantuan PIP secara door to door ke rumah orang tua murid," ujarnya.
Saat ditanya mengenai pengakuan sejumlah orang tua yang menyatakan tidak pernah memegang buku tabungan PIP, Rici mengatakan bahwa setiap proses pencairan ia mengambil buku tabungan dari orang tua, kemudian mengembalikannya setelah pencairan selesai.
Namun ketika dikonfirmasi kembali mengenai banyaknya orang tua yang mengaku tidak pernah menerima atau memegang buku tabungan tersebut, Rici menyatakan dirinya hanya menjalankan tugas membagikan dana sesuai arahan pimpinan saat itu.
"Saya hanya ditugasi membagikan uang PIP oleh pimpinan saat itu. Soal keberadaan buku tabungan, saya tidak mengetahui karena sekarang saya sudah tidak lagi mengurus PIP," ujarnya.
Rici juga membantah bahwa pernyataannya mengenai dokumen yang hilang berkaitan dengan buku tabungan PIP.
"Yang saya maksud waktu itu adalah berkas sekolah yang terbakar, bukan buku tabungan PIP," katanya.
Ketika kembali ditanya mengenai keberadaan buku tabungan PIP, Rici mengaku tidak mengetahui secara pasti dan menyebut pengelolaan administrasi PIP pada masa itu ditangani oleh operator sekolah sebelumnya.
Orang Tua Apresiasi Langkah Kepala Sekolah
Sementara itu, salah seorang orang tua penerima manfaat, Eneng, yang anaknya tercatat sebagai penerima PIP pada masa kepemimpinan kepala sekolah saat ini, mengapresiasi langkah Muhammad Kasim yang mendatangi rumah penerima manfaat.
"Hari Minggu kemarin Pak Kasim datang ke rumah. Beliau menyampaikan akan berupaya menyelesaikan persoalan PIP anak saya sampai tuntas," ujarnya.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh lima orang tua penerima manfaat lainnya yang berharap proses penyelesaian dapat dilakukan secara transparan sehingga seluruh hak siswa penerima PIP dapat diterima sesuai ketentuan.
Sementara itu H. Jajat sang Kepala Sekolah sebelumnya dihubungi awak media berulang kali melalui sambungan aplikasi perpesanan WhatsApp masih nampak ceklis satu dengan keterangan memanggil.
Goesta