| Foto: Dok. (Gambar ilustrasi AI SC) Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Ir. H. Nana Sulaksana, MSP., mengatakan perbedaan tersebut antara lain terlihat dari kedalaman sumber magma, jalur pergerakan magma ke permukaan, proses diferensiasi magma, hingga komposisi batuan yang dilalui magma |
SUARA CIANJUR | CIANJUR — Aktivitas erupsi sejumlah gunung api di Indonesia dalam beberapa waktu terakhir tidak serta-merta menunjukkan adanya keterkaitan secara geologi. Setiap gunung api memiliki sistem magma dan karakter geologi yang berbeda.
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Ir. H. Nana Sulaksana, MSP., mengatakan perbedaan tersebut antara lain terlihat dari kedalaman sumber magma, jalur pergerakan magma ke permukaan, proses diferensiasi magma, hingga komposisi batuan yang dilalui magma.
"Berbagai aktivitas gunung api walaupun jaraknya berdekatan, masing-masing mempunyai sistem yang berbeda, baik kedalaman dapur magmanya maupun komposisi magmanya. Karena itu tidak ada hubungan langsung," kata Nana dalam wawancara khusus dengan Suaracianjur.com, Senin, 7 September 2026.
Menurut Nana, karakter magma ikut menentukan sifat dan tipe erupsi. Karena itu, peningkatan aktivitas pada satu gunung api tidak dapat secara langsung dijadikan indikator bahwa gunung api lain akan mengalami kondisi serupa.
Ia menjelaskan, perubahan kegempaan merupakan salah satu parameter yang digunakan untuk memantau aktivitas gunung api. Data tersebut diperoleh melalui seismograf yang dipasang di sejumlah titik pada tubuh gunung.
Pergerakan magma menuju permukaan dapat memengaruhi pola kegempaan. Namun, penentuan tingkat aktivitas gunung api tidak hanya bergantung pada indikator tersebut.
Pemantauan juga mencakup deformasi tubuh gunung dengan perangkat geodetik yang terhubung dengan sistem satelit GPS. Perubahan posisi maupun bentuk tubuh gunung menjadi bagian dari data yang dianalisis untuk melihat perkembangan aktivitas vulkanik.
Pengamatan visual terhadap kawah dan emisi juga dilakukan secara berkala. Keberadaan kamera pemantau atau CCTV memungkinkan perubahan aktivitas di sekitar kawah diamati secara berkelanjutan.
Selain itu, analisis gas vulkanik, termasuk melalui sistem multi-gas, digunakan untuk melengkapi pemantauan. Riwayat letusan, peta geologi, serta karakter erupsi sebelumnya turut menjadi bahan pembanding dalam menilai perkembangan aktivitas gunung api.
"Seluruh variabel sebagai tanda-tanda akan terjadi erupsi sudah dimanfaatkan secara optimal dalam pemantauan gunung api di Indonesia," ujar Nana.
Risiko Geologi dan Kesiapsiagaan
Nana mengatakan tingginya aktivitas vulkanik di Indonesia berkaitan dengan kondisi geologi wilayah tersebut yang berada di kawasan pertemuan tiga lempeng tektonik dan bagian dari Cincin Api Pasifik.
Kondisi itu membuat Indonesia memiliki tingkat ancaman terhadap berbagai bencana geologi, termasuk gempa bumi dan erupsi gunung api. Pada saat yang sama, proses geologi tersebut juga berkaitan dengan keberadaan sejumlah sumber daya alam, seperti panas bumi dan mineral.
Menurut Nana, kondisi tersebut menuntut kesiapsiagaan masyarakat, terutama mereka yang tinggal dan beraktivitas di kawasan rawan bencana.
Ia juga menyoroti pentingnya koordinasi antara pemantauan gunung api dan otoritas penerbangan ketika erupsi berpotensi mengganggu keselamatan penerbangan.
"Kita sangat mengapresiasi kerja Direktorat Vulkanologi yang dengan cepat dan tepat telah berkoordinasi langsung dengan otoritas penerbangan sehingga keselamatan penerbangan menjadi bagian dari upaya mitigasi bahaya letusan gunung api," kata Nana.
Selain aspek penerbangan, komunikasi risiko kepada masyarakat dinilai perlu diperkuat ketika erupsi menghasilkan sebaran abu vulkanik.
Menurut Nana, abu vulkanik memiliki karakter berbeda dari debu biasa karena dapat mengandung partikel mineral silikat berukuran sangat kecil. Paparan abu tersebut dapat mengganggu saluran pernapasan dan mata.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak perlu memperhatikan informasi dan anjuran perlindungan yang dikeluarkan otoritas kesehatan maupun kebencanaan.
Pendidikan Kebencanaan
Nana menilai kesiapsiagaan tidak cukup hanya mengandalkan perangkat pemantauan dan sistem peringatan dini. Pemahaman masyarakat terhadap ancaman di wilayah tempat tinggal juga perlu dibangun secara berkelanjutan.
Pendidikan kebencanaan, menurut dia, perlu diperkenalkan sejak dini, termasuk kepada anak-anak sekolah yang tinggal di kawasan rawan. Materinya antara lain mengenai karakter ancaman, prosedur peringatan dini, serta kawasan yang harus dihindari ketika aktivitas gunung api meningkat.
"Yang diperlukan secara menerus adalah mengingatkan dan bahkan memberikan pelajaran pemahaman kepada masyarakat, anak-anak sekolah sejak dini, pendidikan kebencanaan di sekitar tempat tinggal sehingga masyarakat akan meningkatkan terbentuknya masyarakat tangguh bencana," ujarnya.
Ia juga meminta masyarakat menggunakan peta zona risiko gunung api sebagai salah satu pedoman dalam menjalankan aktivitas di kawasan rawan bencana.
Menurut Nana, sistem mitigasi dan early warning system untuk bencana gunung api di Indonesia telah diterapkan. Namun, efektivitas sistem tersebut tetap bergantung pada kepatuhan masyarakat terhadap informasi resmi serta pemahaman terhadap risiko bencana.
"Harus diakui bahwa dari bencana geologi, upaya mitigasi early warning system yang saat ini sudah sangat baik diterapkan adalah di dalam kebencanaan gunung api," kata Nana.
Indra