| Foto: Dok. (Awaludin) Peristiwanya bukan kejadian baru. Sudah 10 hari berlalu. Aparat Desa Ciburayut dan BPBD Kabupaten Bogor tercatat telah turun ke lokasi sejak hari pertama. Namun kunjungan itu berhenti sebatas tinjauan. Hingga hari ini, tidak ada hunian sementara, tidak ada kepastian perbaikan |
SUARA CIANJUR | BOGOR - Hujan deras memicu longsor dan meruntuhkan satu rumah di Kampung Panyarang, RT 03/RW 08, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Bangunan yang dihuni dua keluarga dengan total 11 jiwa itu rusak berat dan tak lagi layak huni.
Peristiwanya bukan kejadian baru. Sudah 10 hari berlalu. Aparat Desa Ciburayut dan BPBD Kabupaten Bogor tercatat telah turun ke lokasi sejak hari pertama. Namun kunjungan itu berhenti sebatas tinjauan. Hingga hari ini, tidak ada hunian sementara, tidak ada kepastian perbaikan.
Korban adalah Usnudin dan adiknya, Ahmad Khoerudin. Dua keluarga ini tinggal dalam satu atap. Usai longsor, struktur bangunan dinyatakan tidak aman dan harus dikosongkan.
Dampaknya paling keras menghantam dapur. Usnudin yang menggantungkan hidup sebagai buruh bangunan dengan penghasilan tak menentu, kini harus memeras kantong untuk sewa kontrakan demi menyelamatkan keluarganya. Beban serupa dipikul Ahmad Khoerudin yang juga hidup dalam keterbatasan ekonomi.
"Sejak kejadian 10 hari yang lalu kami harus mengontrak rumah untuk keluarga," terang Usnudin, Minggu (20/9/2026).
Ia berharap ada kepastian bantuan tempat tinggal yang segera direalisasikan.
" Jika harus terus mengontrak dengan kondisi ekonomi saat ini, terasa sangat berat," keluhnya.
Potret ini menegaskan lambannya penanganan pasca-bencana di level lokal. Negara hadir untuk meninjau, tapi absen dalam intervensi paling mendesak: memberi kepastian tempat tinggal bagi korban. Dua keluarga itu kini bertahan dengan biaya sendiri, menggantungkan nasib pada tindak lanjut yang tak jelas ujungnya.
Reporter: Arkam/Awaludin