Divonis Sejahtera di Atas Kertas, Kuli Panggul Cijeruk Tak Pernah Cicip Bansos

suaracianjur.com
September 16, 2026 | 13:08 WIB Last Updated 2026-09-16T06:12:49Z
Foto: Dok. (Gambar ilustrasi AI SC) Kuli panggul pasar sedang memanggul barang, mereka hidup tanpa jaminan sosial 

SUARA CIANJUR | BOGOR - Negara hadir dalam angka statistik, tapi absen dalam denyut hidup warga miskin pekerja. Itulah realitas yang dialami Entis Sutisna, kuli panggul pasar warga Kp. Pangkalan RT 14/05, Desa Tanjungsari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor.

Seumur hidup, Entis mengaku tak pernah sekalipun mencicipi bantuan sosial pemerintah. Bukan karena ia hidup berkecukupan, melainkan karena sistem pendataan kesejahteraan negara menempatkannya pada kategori Desil 6 hingga 10 — kelompok yang dicap tidak layak menerima bansos.

Label desil itu berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Penghasilannya sebagai kuli panggul jauh dari kepastian, bergantung pada kuatnya tenaga dan ramainya pasar.

" Setiap hari berangkat ke pasar sebelum matahari terbit, memanggul beban demi sesuap nasi. Penghasilan tidak menentu, kadang banyak kadang sedikit. Namun saat ada bantuan sosial, nama kami tidak pernah tercantum," keluh Entis, Rabu (16/9/2026).

" Katanya sih desil kami 6 sampai 10, jadi tidak masuk penerima. Padahal kami butuh sekali, apalagi jika sedang sakit atau kebutuhan mendesak datang," sambungnya.

Fenomena ini tidak hanya dialami Entis seorang diri. Para kuli panggul lain di pasar yang sama mengeluhkan persoalan serupa. Klasifikasi desil yang kaku justru menjadi tembok pemisah antara warga rentan dan hak atas jaring pengaman sosial. Ketika tubuh mereka tumbang, ekonomi keluarga ikut lumpuh tanpa ada jaring pengaman dari negara.

" Tenaga adalah satu-satunya modal. Jika sakit, penghasilan berhenti begitu saja. Tanpa jaminan penghasilan tetap dan tidak tersentuh bantuan, kami berharap data kesejahteraan warga seperti mereka dapat ditinjau ulang agar lebih adil dan tepat sasaran," katanya.
Foto: Dok. (Awaludin) Seumur hidup, Entis mengaku tak pernah sekalipun mencicipi bantuan sosial pemerintah. Bukan karena ia hidup berkecukupan, melainkan karena sistem pendataan kesejahteraan negara menempatkannya pada kategori Desil 6 hingga 10 — kelompok yang dicap tidak layak menerima bansos

Kisah Entis menegaskan persoalan klasik bansos di Indonesia: akurasi data yang dipertanyakan. Ketika warga yang memanggul beban di pasar sebelum fajar dianggap sejahtera di atas kertas, maka ada yang salah dalam cara negara mendefinisikan kemiskinan.

Melalui Entis, para kuli panggul hanya menuntut satu hal: kejujuran pendataan.

" Kami tidak meminta istimewa, hanya agar keadaan yang sesungguhnya dapat dilihat dan diakui secara jujur dalam pendataan," pintanya.

Reporter: Arkam/Awaludin
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Divonis Sejahtera di Atas Kertas, Kuli Panggul Cijeruk Tak Pernah Cicip Bansos

Trending Now

Iklan