| Foto: Dok. (vII) Gambar ilustrasi (AI SC) 1947 Negeri Belum Benar Benar Pulih, Dia Menjaga Agar Hidup Tetap Bisa Berjalan |
SUARA CIANJUR | CIANJUR - Di bawah pohon itu, ia membuka bengkel yang tak pernah punya papan nama. Tidak ada dinding. Tidak ada etalase. Hanya bangku kayu, kotak besi, dan tangan yang hafal bunyi besi tua, modal paling nyata, yang ia punya.
“ Krekk...” Rantai ditarik pelan.
Sepeda datang membawa kerusakan. Ia datang membawa ketelitian.
1947 Negeri belum benar-benar pulih. Jalanan masih menyimpan debu perang. Celana anak-anak banyak yang tambal. Sepatu tipis berjalan melewati jalan berlubang.
Dan di sana, seorang lelaki memperbaiki roda yang lelah berputar terlalu jauh.
Sepeda-sepeda datang tanpa janji.
Ban kempes.
Rantai lepas.
Jari-jari patah.
Kadang seorang buruh berdiri sambil mengusap keringat,
menunggu sepedanya selesai
agar bisa pulang sebelum malam.
Tangannya bekerja lebih banyak daripada suaranya.
Geraknya tenang, seolah paham bahwa hidup pada masa itu tak memberi kemewahan untuk tergesa.
Ia menunduk, mengencangkan yang longgar, menyambung yang putus, membuat sesuatu kembali bergerak meski dunia belum sepenuhnya baik-baik saja.
Tak ada yang memotretnya untuk terkenal.
Tak ada yang menulis kisahnya di koran pagi.
Namun roda-roda itu tahu, perjalanan banyak orang bergantung pada lelaki yang duduk diam di bawah pohon.
Sejarah sering mencatat para pemimpin, para jenderal, para pahlawan besar.
Jarang yang mencatat tukang service sepeda yang diam-diam menjaga agar hidup tetap bisa berjalan.
Karena kadang, yang membuat dunia terus bergerak bukan mereka yang sering pidato, melainkan mereka yang mengencangkan baut
tanpa suara.
vll