Mahasiswa KKN UIN SGD Soroti Fenomena Pernikahan Dini dan Kenakalan Remaja di Desa Ciwalen

suaracianjur.com
Juli 26, 2026 | 23:06 WIB Last Updated 2026-07-26T16:11:36Z
Foto: Dok. (Dang/SC) Dzaki Azmi mahasiswa UIN SGD saat diwawancarai awak media suara cianjur

SUARA CIANJUR | WARUNGKONDANG – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung yang tengah melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, menaruh perhatian terhadap fenomena pernikahan dini dan kenakalan remaja yang dinilai masih menjadi tantangan sosial di masyarakat.

Sebanyak 12 mahasiswa dari Fakultas Syariah dan Hukum yang tergabung dalam Kelompok 1 menjalankan program pengabdian masyarakat di dua wilayah, yakni Dusun Pekalongan dan Dusun Ciremis. Kegiatan KKN berlangsung sejak 19 Juli hingga 25 Agustus 2026, dengan posko utama berada di Dusun Cibinong.

Koordinator Kelompok 1, Dzaki Azmi, mengatakan program yang mereka jalankan merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.

" Kegiatan ini merupakan perwujudan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat," ujar Dzaki, Minggu (26/7/2026).

Ia menjelaskan, kelompoknya mengusung tema "Sadar Hukum" dengan tujuan memberikan edukasi kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran hukum dalam kehidupan sehari-hari.

" Kelompok kami mengusung tema: Sadar Hukum, tujuannya memberikan penyuluhan serta meningkatkan kesadaran hukum ditengah masyarakat," jelasnya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama pelaksanaan KKN, kelompok tersebut memfokuskan kajian pada dua persoalan yang dinilai cukup menonjol di wilayah dampingan.

" Berdasarkan hasil pemantauan dan analisis yang dilakukan di kedua dusun, terdapat dua isu utama yang menjadi fokus utama kegiatan, yaitu: pernikahan dini dan kenakalan remaja. Kedua hal ini dinilai sebagai akar permasalahan sosial yang apabila tidak dicegah sejak dini akan memicu dampak buruk yang lebih luas," terangnya.
Foto: Dok. (Dang/SC) Mahasiswa KKN UIN SGD Soroti Fenomena Pernikahan Dini dan Kenakalan Remaja di Desa Ciwalen

Menurut Dzaki, kedua persoalan tersebut perlu mendapat perhatian karena berpotensi memicu berbagai persoalan sosial apabila tidak diantisipasi sejak dini.

" Oleh karena itu, kami akan menyelenggarakan penyuluhan untuk melakukan pencegahan lebih awal," katanya.

Ia juga menjelaskan alasan pentingnya pencegahan pernikahan dini dari sudut pandang psikologis.

" Secara psikologis, kematangan emosi perempuan umumnya baru tercapai pada usia 19 hingga 20 tahun, sedangkan bagi laki-laki kematangan itu baru didapatkan pada usia 25 tahun. Pernikahan yang dilakukan di bawah usia matang tersebut sangat rawan menimbulkan masalah di kemudian hari," ungkapnya.

Melalui program yang dijalankan selama KKN, Dzaki berharap kegiatan penyuluhan yang telah dirancang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan tetap berkelanjutan meski masa pengabdian mahasiswa telah berakhir.

Ia juga menyampaikan harapan agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kesejahteraan masyarakat, khususnya di lapisan terbawah.

" Kami berharap apa yang kami lakukan benar-benar bermanfaat bagi warga. Selain itu, kami juga berharap para pemimpin negeri dapat lebih melihat ke bawah, mengingat masih banyak rakyat yang membutuhkan perhatian lebih," ucapnya.

Di akhir penyampaiannya, Dzaki mengajak masyarakat untuk terus menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

" Pesan sederhana yang ingin kami sampaikan: hiduplah dengan baik, karena menjadi orang baik itu tidak akan pernah merugikan siapa pun," tutupnya.

(Dang)



Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Mahasiswa KKN UIN SGD Soroti Fenomena Pernikahan Dini dan Kenakalan Remaja di Desa Ciwalen

Trending Now

Iklan