Syahriahan MUI Warungkondang Menyasar Desa, Sinergi Ulama-Umaro Kembali Ditegaskan

suaracianjur.com
Agustus 14, 2026 | 22:32 WIB Last Updated 2026-08-14T15:35:36Z
Foto: Dok (Dang SC) Kegiatan Syahriahan diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Warungkondang, pengurus MUI Kecamatan Warungkondang, Kepala KUA Warungkondang, Ketua UPZ, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa Ciwalen serta Warga setempat


SUARA CIANJUR | WARUNGKONDANG — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Warungkondang menggelar Syahriahan atau pengajian bulanan secara bergilir di sejumlah desa. Kegiatan tersebut menjadi ruang kajian keagamaan sekaligus mempertemukan unsur ulama, pemerintah dan masyarakat di tingkat desa.

Syahriahan dilaksanakan setiap Jumat setelah salat Jumat. Pada Jumat (14/8/2026), kegiatan berlangsung di Desa Ciwalen dengan mengangkat tema “Sinergi Ulama dan Umaro Menuju Baldattun Toyyibah.”

Kegiatan tersebut diikuti unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Warungkondang, pengurus MUI Kecamatan Warungkondang, Kepala KUA Warungkondang, Ketua UPZ, Tokoh Masyarakat, Pemerintah Desa Ciwalen serta Warga setempat.

Ketua MUI Kecamatan Warungkondang, Drs. KH. Ade Ismatullah, M.Ag., mengatakan Syahriahan merupakan agenda rutin yang sengaja digelar bergilir di setiap desa agar kegiatan kajian keagamaan tidak hanya terpusat pada satu tempat.

" Syahriahan atau pengajian bulanan MUI Kecamatan Warungkondang ini dilaksanakan di tiap-tiap desa, dan hari ini Alhamdulillah dilaksanakan di desa Ciwalen" Ujar Ade Ismatullah, Jumat (14/8/2026).

Menurut Ade, kegiatan tersebut tidak sebatas agenda keagamaan rutin, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun hubungan antara ulama, pemerintah dan masyarakat.

Ia menjelaskan, kajian dalam Syahriahan kali ini turut membahas Kitab "Nihayatuz Zain", dengan materi yang mencakup tata cara beribadah, muamalah, adab pernikahan hingga jinayah atau hukum-hukum Islam.

KH Ade menilai keterlibatan ulama, umaro dan masyarakat diperlukan agar kehidupan sosial dan pembangunan di tingkat lokal tidak berjalan sendiri-sendiri.

" Karena dalam membangun bangsa dan negara ini tidak bisa sendiri-sendiri, melainkan harus ada sinergi antara Ulama, Umaro dan Masyarakatnya".

Selain persoalan sinergi, KH Ade menekankan pentingnya penguatan pengetahuan agama sebagai dasar dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupan.

" Hal paling utama yang harus dilakukan adalah memenuhi diri dengan ilmu. Karena tanpa ilmu, segala sesuatu yang kita laksanakan tidak akan mencapai sasaran dengan tepat dan maksimal. Makanya dalam hadis disebutkan bahwa, segala sesuatu itu harus dimulai dengan ilmunya," terangnya.

Dari sisi pemerintah desa, Sekretaris Desa Ciwalen, Gilang Fahmi Gina, menilai pengajian rutin tersebut memberikan ruang bagi aparatur desa untuk kembali mendalami pengetahuan agama di tengah aktivitas pemerintahan.

" Kegiatan pengajian rutin setiap bulan ini sangat bermanfaat dan berdampak positif, terutama bagi kami selaku pemangku jabatan di pemerintahan desa," ujarnya.

Gilang mengatakan aktivitas sehari-hari di pemerintahan kerap membuat kesempatan untuk mengikuti kajian keagamaan menjadi terbatas. Karena itu, pola pengajian yang berpindah dari satu desa ke desa lainnya dinilai memberi kesempatan lebih luas bagi masyarakat dan aparatur desa untuk mengikuti kajian.

" Dengan berbagai kesibukan yang ada, waktu kita untuk mengkaji ilmu itu tentu sangat terbatas. Namun dengan adanya  pengajian tiap bulan ini, menjadi kesempatan bagi kami untuk menambah ilmu agama dan juga memperbaiki diri," tuturnya.

Ia menambahkan, materi mengenai salat menjadi salah satu pembahasan yang dinilai relevan dengan kehidupan sehari-hari umat Islam.

" Apalagi yang dibahas terkait bab sholat, yang memang menjadi pokok ibadah bagi kita sekalian umat Muslim," tutupnya.

Dang
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Syahriahan MUI Warungkondang Menyasar Desa, Sinergi Ulama-Umaro Kembali Ditegaskan

Trending Now

Iklan