Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

suaracianjur.com
September 20, 2026 | 14:40 WIB Last Updated 2026-09-20T07:52:51Z
Foto: Dok. (Gambar istimewa) Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

SUARA CIANJUR | JAKARTA - Di tengah kejenuhan pariwisata Bali yang bertumpu pada pantai dan beach club, dua inisiatif berbasis warga di Pulau Dewata menawarkan arah berbeda: konservasi ekologi dan transmisi pengetahuan seni.

Fenomena ini muncul seiring ekspansi platform pariwisata berbasis pengalaman seperti Airbnb Experiences yang sejak Mei lalu kian masif di Bali. Jika biasanya pariwisata dijual lewat pemandangan, model ini menjual interaksi - masuk ke laboratorium desa, ke dapur keluarga, hingga ke sanggar lukis.

Dua cerita dari lapangan menggambarkan bagaimana model tersebut bekerja, sekaligus pertaruhan yang menyertainya.

Di Desa Taro: Mencari Cahaya yang Hilang

Sekitar 20 kilometer utara Ubud, Desa Taro menyimpan masalah ekologis yang jarang masuk brosur wisata. Populasi kunang-kunang yang dulu menjadi penanda sawah sehat, kini kian langka akibat penggunaan pestisida dan degradasi habitat.

Wayan Wardika, warga Taro dengan latar belakang pariwisata, mengaku kepulangannya ke desa menjadi titik balik. Lanskap masa kecilnya telah berubah.
Keterangan Gambar: (Gambar istimewa) Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

Keresahannya ia terjemahkan menjadi inisiatif bernama Bring Back The Light, yang melibatkan petani lokal, peneliti, dan ilmuwan muda untuk memulihkan habitat kunang-kunang.

Bagi Wayan, isu ini melampaui ekologi.

“Kunang-kunang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kearifan lokal, spiritualitas, budaya, dan tradisi Bali. Saat kita melindungi kunang-kunang, kita juga sedang melindungi bagian kecil dari identitas budaya dan kearifan yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Wayan. Minggu (20/9/2026).

Platform wisata pengalaman kemudian ia gunakan sebagai kanal untuk memperluas jangkauan konservasi.

“Misi kami bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkenalkan upaya konservasi ini dan mengajak mereka untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih bermakna. Menjadi tuan rumah di Airbnb telah membantu kami menjangkau lebih banyak orang, dan para tamu sering kali merekomendasikan pengalaman ini kepada teman dan sesama wisatawan. Hal ini sangat membantu kami menyebarkan pesan tentang konservasi kunang-kunang.” jelasnya.
Keterangan Gambar: (Gambar istimewa) Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

Wisatawan yang datang tidak sekadar diajak berjalan di pematang sawah saat gelap. Mereka diperkenalkan pada siklus hidup kunang-kunang di laboratorium sederhana, bertemu dengan peneliti muda lokal, hingga makan bersama keluarga Wayan.

“Harapan kami, ketika pulang nanti, mereka tidak hanya mengingat momen melihat kunang-kunang. Mereka juga akan mengingat bagaimana rasanya terhubung dengan alam dan menjadi bagian dari upaya untuk melindunginya.”

Wayan mencatat, ada tiga titik yang paling diingat tamu: laboratorium pembiakan, dapur keluarga, dan momen pelepasan kunang-kunang di alam bebas.

“Banyak tamu Airbnb yang merekomendasikan pengalaman kami kepada wisatawan lain, bahkan beberapa mengatakan ingin kembali,” ujar Wayan. “Bagi saya, itulah salah satu hal yang paling bermakna, ketika seorang pengunjung datang sebagai wisatawan biasa, tetapi pulang dengan perasaan bahwa mereka telah menjadi bagian kecil dari perjalanan konservasi kami,” tambahnya.

Di Klungkung: Merawat Garis Warisan Kamasan

Cerita kedua datang dari seniman Ida Bagus Rekha. Fokusnya adalah lukisan Kamasan, gaya lukis klasik Bali yang lahir dari Klungkung, yang sarat pakem cerita pewayangan dan filosofi.
Keterangan Gambar: (Gambar istimewa) Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

Ilmu tersebut ia peroleh dari gurunya, Nyoman Mandra, maestro Kamasan asal Klungkung. Jika Wayan merawat ekosistem, Rekha merawat pengetahuan visual.

Dalam sesi yang ia pandu, wisatawan tidak diajari melukis cepat untuk suvenir. Mereka diminta mengikuti proses pewarnaan bertahap, satu warna demi satu warna, dengan urutan yang tidak bisa dilompati. Sebuah latihan kesabaran yang kontras dengan kecepatan pariwisata massal.

"Lewat pengalaman ini, saya berharap para wisatawan dapat lebih memahami bagaimana seni Bali telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami. Seni Bali bercerita dan memberi makna dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari upacara adat, hiasan pura, hingga pakaian. Dengan mempelajari dan melestarikannya, kita ikut meneruskan tradisi sekaligus memberi makna baru melalui pengalaman kita sendiri," ujar Ida Bagus Rekha.

Bagi Rekha, interaksi dengan wisatawan asing justru menjadi ruang refleksi balik atas karyanya sendiri. Pertukaran perspektif itu pula yang mendorongnya memperluas Khatha Studio yang semula hanya berorientasi lokal.

Aspek ekonomi juga tidak bisa dilepaskan. Di tengah sulitnya seniman tradisional hidup hanya dari karya, platform ini menjadi penopang.

"Menjadi tuan rumah Airbnb Experiences memberi saya penghasilan tambahan yang mendukung saya sebagai seniman, mulai dari menciptakan karya-karya baru hingga mempersiapkan pameran saya," ujar Ida Bagus Rekha.

Reporter: Arkam 
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Bali di Luar Itinerary: Ketika Kunang-Kunang dan Lukisan Menjadi Penanda Pariwisata

Trending Now

Iklan