Dua Tahun Bertahan di Gubuk 2x2 Meter, Warga Bobojong Mande Berjuang Sendiri

suaracianjur.com
September 18, 2026 | 18:21 WIB Last Updated 2026-09-18T11:24:18Z
Foto: Dok. (Agus Prabu SC) Keterbatasan ekonomi memaksa Atak Kusmayadi (59), warga Kampung Bobojong RT 02/RW 01, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, bertahan hidup di sebuah gubuk berukuran 2x2 meter

SUARA CIANJUR | MANDE - Keterbatasan ekonomi memaksa Atak Kusmayadi (59), warga Kampung Bobojong RT 02/RW 01, Desa Bobojong, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, bertahan hidup di sebuah gubuk berukuran 2x2 meter.

Gubuk tersebut berdiri di atas lahan milik orang lain atas izin pemiliknya. Material bangunannya berasal dari swadaya warga sekitar.

Atak tinggal seorang diri di hunian sementara itu. Di usia yang telah memasuki paruh baya, ia berupaya tetap mandiri tanpa menyusahkan orang lain.

Kepada Suara Cianjur, Atak mengenang masa lalu ketika keluarganya masih utuh. Kebahagiaan itu perlahan memudar seiring persoalan ekonomi yang menghantam rumah tangganya.

" Dulu sekali, saya memiliki keluarga, tidak hidup sebatang kara seperti saat ini, saya memiliki isteri dan satu orang anak laki- laki, awal- awal kami hidup bahagia, namun karena faktor ekonomi akhirnya pernikahan kami kandas," ujar Atak saat ditemui, Jumat (18/9/2026).

Perceraian tersebut membuatnya harus membesarkan anak semata wayangnya seorang diri. Namun, ujian kembali datang saat sang anak beranjak dewasa.

" Setelah bercerai, saya mengurus anak sendirian, setelah anak saya tumbuh dewasa, cobaan hidup kembali menerpa kami, medis memvonis anak semata wayangku menderita penyakit epilepsi," terangnya.

Keterbatasan biaya membuat Atak kesulitan memenuhi kebutuhan harian, apalagi untuk pengobatan anaknya.

" Hidup kami serba kekurangan, jangankan untuk berobat anak, untuk penuhi kebutuhan sehari-hari pun sangat sulit, karena kondisi seperti ini, tidak memiliki uang untuk biaya pengobatan, akhirnya anak ku meninggal dunia," bebernya.

Kini, lebih dari dua tahun Atak menempati gubuk reyot tersebut. Dinding dan lantai yang terbuat dari tripleks bekas pemberian warga, kondisinya sudah rapuh dan lapuk.

" Sudah lebih dari dua tahun tinggal di gubuk reyot berukuran 2x2 meter, dengan bahan materialnya hasil pemberian warga, mulai dari dinding hingga lantai yang terbuat dari triplek bekas, rumah hunian sementara ini kondisinya sekarang sudah rapuh," keluhnya.

Meski kondisi fisiknya kerap sakit-sakitan, Atak tetap bekerja sebagai kuli serabutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ia pun berharap adanya perhatian dari berbagai pihak agar dapat hidup lebih layak.

" Tidak pernah mendapat bantuan dalam bentuk apapun dari pemerintah, kalau uluran tangan dari tetangga iya," akunya.

Reporter: Agus Prabu
Editor: Suara Cianjur
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dua Tahun Bertahan di Gubuk 2x2 Meter, Warga Bobojong Mande Berjuang Sendiri

Trending Now

Iklan