| Foto: Dok. (Rafli) Aneh! Meski tidak pernah di daftarkan orangtuanya, nama Ahmad Saripudin muncul sebagai penerima manfaat PIP di kelas jauh SMPN 1 Mande, (1/4/2026). |
SUARA CIANJUR | MANDE - Munculnya data peserta didik fiktif pada program kelas jauh SMPN 1 Mande, mendapat sorotan publik, mereka bertanya- tanya, bagaimana bisa seorang anak yang tidak pernah didaftarkan orang tuanya, tiba-tiba muncul di dapodik sebagai peserta didik, sedangkan si anak sejak lulus sekolah dasar di masukan ke pesantren. Rabu (1/4/2026).
Asep Supriadi selaku Kepala Sekolah SMPN 1 Mande, terkait permasalahan tersebut mengaku tidak tahu, bahkan dirinya mengaku merasa dibohongi oleh pengelola kelas jauh.
" Adanya kabar seperti ini, saya sangat kecewa, kami tidak tahu menahu kalau di sekolah kelas jauh ada peserta didik yang dinyatakan fiktif," tutur Asep saat diwawancarai awak media, Selasa (31/3/2026).
" Jika kenyataannya seperti, kami merasa dibohongi, sebagai kepala sekolah, saya akan memanggil guru yang mengelola kelas jauh," katanya.
Ia juga dengan jelas menegaskan, bahwa data anak yang tak pernah mendaftar, kemudian muncul di dapodik, datanya sudah ia hapus.
" Anak yang tidak sekolah tapi namanya tercantum di sekolah, sudah saya hapus, dan akan saya laporkan ke Inspektorat, serta pengembalian dana BOSnya," tegas Asep.
Terakhir, ia memastikan bahwa setiap dana bantuan pendidikan di sekolah yang ia pimpin senantiasa tersalurkan.
" Penyaluran dana bantuan BOS ke sekolah SMP kelas jauh selalu salurkan, karena peserta didik kelas jauh pun berhak menerima dana bantuan pendidikan," terangnya.
Sambung Asep, jadi dalam hal ini saya tidak mengetahui, dan secepatnya akan memanggil pengelola kelas jauh
" Sebetulnya kemunculan permasalahan seperti ini tidak saya harapkan, dan segala bentuk bantuan pendidikan, mulai dari dan BOS, dan PIP sudah kami salurkan sesuai aturan," tandasnya, meyakinkan awak media.
Sebelumnya, Nurhayati, orang tua dari Ahmad Saripudin, tidak terima data pribadi anaknya digunakan kelas jauh SMPN 1 Mande, ia juga menegaskan bahwa anaknya setelah lulus sekolah dasar ia masukan ke pesantren.
" Sejak lulus sekolah dasar, Ahmad saya masukan ke pesantren picung di kecamatan warungkondang, dan saya! Sebagai orang tua kandungnya tidak pernah mendaftarkan anak saya ke SMP manapun, termasuk di kelas jauh SMPN 1 Mande," tegasnya dengan nada suara meninggi.
" Saya kaget, ketika mengecek aplikasi sipintar, nama Ahmad Saripudin (anak saya) muncul sebagai penerima manfaat PIP di satuan pendidikan SMPN 1 Mande, siapa yang mendaftarkan?," ucapnya balik bertanya.
Terakhir, setelah dia melakukan pengecekan data penerima manfaat PIP di aplikasi besutan Kemendikbud tersebut, ia mengeluh kan tentang transparansi penyaluran dana bantuan Program Indonesia Pintar (PIP).
" Di sekolah dasar tempat dulu anak saya menimba ilmu, sama sekali tidak pernah menerima dana bantuan PIP, padahal di aplikasi sipintar tercatat sebagai penerima manfaat, selama 6 tahun anggaran berturut-turut, tapi anehnya tidak sekalipun saya menerima, jangankan uangnya, pemberitahuan kepada orang tua murid pun tidak ada, sebegitu parahnya pengelolaan dana bantuan pendidikan, bahkan demi menyerap dana bantuan, segala cara dilakukan, termasuk memasukkan data pribadi anak saya tanpa seizin orang tua nya! Parah!," tandasnya.
Rafli