| Foto: Dok. (Rajib SC/AI) Gambar ilustrasi program " Gerakan Mengajar Desa" yang di inisiasi para pemuda pemudi relawan yang peduli terhadap dunia pendidikan |
SUARA CIANJUR | BANDUNG – Sebanyak 16 relawan muda dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia menggelar aksi pendidikan melalui program "Gerakan Mengajar Desa" di Madrasah Ibtidaiyah Swasta (MIS) Baitul Ghofur, Kampung Cilember, Desa Lebak Muncang, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Kegiatan yang berlangsung selama tujuh hari, mulai 27 Juli hingga 2 Agustus 2026, itu diikuti satu mentor dan 15 tutor yang datang dengan misi berbagi ilmu sekaligus memberikan motivasi kepada para siswa di wilayah pedesaan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan mentor dan para tutor, kehadiran mereka tidak hanya untuk menjalankan program pembelajaran, tetapi juga melihat secara langsung kondisi pendidikan di desa serta memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi sekolah di daerah.
Gerakan Mengajar Desa lahir dari kepedulian para pemuda terhadap masih adanya kesenjangan akses pendidikan di sejumlah wilayah. Melalui kegiatan tersebut, para relawan ingin terlibat langsung dalam proses belajar mengajar sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan.
Nursiti selaku mentor program Gerakan Mengajar Desa mengatakan, masih terdapat berbagai aspek pendidikan yang perlu mendapat perhatian.
“ Di kota mungkin fasilitas dan guru sudah lengkap. Tapi ketika kami datang ke sini, kami melihat dengan jelas masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Lewat gerakan ini kami ingin hadir, mengajar, sekaligus memberi semangat bahwa belajar itu penting dan bisa dari siapa saja,” terang Nursiti, Kamis (30/7/2026).
| Foto: Dok. (RAJIB SC) Nampak dalam gambar para relawan sedang melaksanakan kegiatan belajar mengajar di pelosok Kabupaten Bandung |
Ia juga menjelaskan latar belakang para relawan yang berasal dari berbagai perguruan tinggi, bahkan sebagian di antaranya telah bekerja dan memiliki profesi.
" Ke 16 relawan berasal dari kampus: Universitas Padjadjaran, Universitas Pendidikan Indonesia, UIN Sunan Gunung Djati, UIN Malang, Politeknik STIA LAN Bandung, Universitas Terbuka, Universitas Islam Prabu Siliwangi, UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Kristen Satya Wacana, dan Institut Agama Islam Latifah Mubarokiyyah Suryalaya," bebernya.
Menurut Nursiti, keberagaman latar belakang para relawan justru menjadi kekuatan dalam proses pembelajaran. Masing-masing tutor membawa metode mengajar dan pengalaman yang berbeda sehingga suasana belajar menjadi lebih dinamis.
Selama pelaksanaan program, para relawan mengisi berbagai kegiatan pembelajaran, mulai dari Bahasa Indonesia, Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), hingga permainan edukatif.
" Siangnya dilanjutkan dengan kegiatan literasi membaca, menulis, dan bercerita. Sorenya ada sesi kreatif: menggambar, yel-yel, ice breaking, serta penguatan karakter tentang disiplin, kerja keras, dan bermimpi besar," katanya.
Nursiti menambahkan, metode belajar sambil bermain dipilih agar siswa merasa nyaman dan tidak terbebani selama mengikuti kegiatan.
" Tujuannya agar mereka senang ke sekolah dan memiliki semangat baru untuk belajar," ujarnya.
Ia juga menuturkan tingginya antusiasme siswa terhadap metode pembelajaran yang diterapkan para relawan.
" Antusiasme siswa sangat tinggi. Mereka menyambut para kakak relawan dengan gembira setiap pagi. Banyak siswa yang awalnya malu, lama-lama jadi aktif bertanya dan maju ke depan kelas," tutupnya.
Kepala MIS Baitul Ghofur, Darwin Sutedi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran para relawan yang dinilai memberikan pengalaman baru bagi para siswa.
" Kami sangat terbantu dengan adanya Gerakan Mengajar Desa ini. Anak-anak jadi punya pengalaman baru, bertemu kakak-kak dari berbagai daerah dan kampus. Semoga ini bisa jadi motivasi mereka untuk terus sekolah setinggi-tingginya,” ungkapnya.
Selain mengajar, para relawan juga berinteraksi dengan guru dan masyarakat sekitar untuk memahami secara langsung berbagai tantangan pendidikan di pedesaan, mulai dari keterbatasan sarana dan prasarana, akses menuju sekolah, hingga motivasi belajar peserta didik.
Program Gerakan Mengajar Desa di MIS Baitul Ghofur dijadwalkan berakhir pada 2 Agustus 2026 dan akan ditutup dengan kegiatan pentas seni serta acara perpisahan bersama para siswa.
Melalui kegiatan tersebut, para relawan berharap dapat menjadi penghubung antara generasi muda dan masyarakat desa dalam upaya mendorong pemerataan pendidikan.
“ Kepulangan kami nanti akan membawa banyak cerita. Tapi kami juga akan meninggalkan pesan: jangan pernah berhenti bermimpi dan teruslah belajar,” ucap salah relawan.
Rajib