Data Anak Tercatat di SMKS Bina Teknik Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Kepala KCD Wilayah VI Janji Telusuri Statusnya

suaracianjur.com
Agustus 10, 2026 | 20:41 WIB Last Updated 2026-08-10T13:44:45Z
Foto: Dok. (AI/SC) Gambar ilustrasi Data Anak Tercatat di SMKS Bina Teknik Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Kepala KCD Wilayah VI Janji Telusuri Statusnya

SUARA CIANJUR | CIANJUR – Dugaan pencatatan data peserta didik di SMKS Bina Teknik Kecamatan Cikalongkulon, Kabupaten Cianjur, tanpa sepengetahuan orang tua kembali mendapat perhatian. Persoalan tersebut mencuat setelah orang tua menemukan nama anak mereka tercatat sebagai peserta didik sekaligus penerima Program Indonesia Pintar (PIP), meski mengaku tidak pernah mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.

Menanggapi persoalan itu, Kepala Cabang Dinas (KCD) Wilayah VI Provinsi Jawa Barat Dr. Hj. Nonong Winarni, S.Pd., M.Pd., mengatakan status siswa yang bersangkutan perlu ditelusuri. Ia juga menegaskan bahwa untuk memperoleh ijazah, seorang siswa harus menjalani tahapan pembelajaran sesuai tuntutan kurikulum.

Hal tersebut disampaikan Hj. Nonong saat dikonfirmasi awak media Suara Cianjur melalui aplikasi perpesanan WhatsApp, Minggu (9/8/2026).

" Untuk mendapat ijazah, seorang siswa harus memenuhi berbagai tahapan pembelajaran (sesuai tuntutan kurikulum), mulai dr kelas X sampai kelas XII," jelas Hj. Nonong.

Ia pun menegaskan, lulusan SMK harus betul-betul siswa yang menjalani proses belajar hingga tuntas sesuai tahapan kurikulum pembelajaran.

" Akan kami telusuri terkait status anak tersebut di SMK Bina Teknik".

Data Mahmudin Ditemukan di Sekolah

Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait data pribadi seorang anak yang tercatat di SMKS Bina Teknik tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, Kepala SMK Bina Teknik Endang Permana justru meminta nama anak yang dimaksud.

" Atas namana saha? Cobi pak Hendra cek aya nama Mahmudin teu?," ucap Endang sambil menyuruh operator sekolah untuk menelusuri data, Senin (3/8/2026).

Operator sekolah kemudian menyampaikan bahwa nama Mahmudin ditemukan dalam data sekolah. Bahkan, operator menyebut ijazah atas nama tersebut telah tersedia.

" Oh muhun leres aya pak, bahkan ieu mah ijazah na ge parantos aya," jawab operator sekolah.

Endang selanjutnya menyarankan agar orang tua Mahmudin datang ke sekolah untuk mengambil ijazah tersebut.

" Atos we pak ayeuna mah kieu bilih bade dicandak ijazah na mah candak we orang tua na upami tiasa mah piwarang ka sakola, kan nu sanes mah hoyong ijazah teh kedah seep biaya sabaraha sakola teh atos we ieu mah candak we," ucap Endang menyarankan agar tua dibawa ke sekolah.

Ketika ditanya bagaimana Mahmudin dan Tedi bisa tercatat sebagai peserta didik di SMKS Bina Teknik, sementara orang tua masing-masing mengaku tidak pernah mendaftarkan mereka, Endang menyatakan tidak mengetahui secara pasti.

" Duka atuh pak da ka Sakola ieu mah sok kadang-kadang anu orang tua na teu aya ka Saudi hoyong sakola kadieu ah ditampi we, kadang orang tua na nu rumah tanggana bubar murangkalihna daftar kadieu hoyong sakola sok ditampi we didieu," ujar Endang menjawab pertanyaan awak media menggunakan bahasa daerah.

Orang Tua Mengaku Tak Pernah Mendaftarkan Anak

Sebelumnya, pada Sabtu, 27 Juni 2026, awak media mengonfirmasi Titing dan Tuti, orang tua yang anaknya tercatat di SMKS Bina Teknik. Keduanya mengaku tidak pernah mendaftarkan anak mereka ke sekolah tersebut.

Titing mengatakan, dirinya pertama kali mengetahui nama anaknya, Mahmudin, tercatat di SMKS Bina Teknik setelah melakukan pengecekan secara mandiri melalui aplikasi SIPINTAR.

" Awalnya kami menemukan nama anak kami (Mahmudin) di aplikasi SIPINTAR tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) tahun anggaran 2023- 2024 dengan nama satuan pendidikan SMKS Bina Teknik," terang Titing, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Titing, pencocokan identitas dilakukan menggunakan NISN dan NIK anaknya. Dari hasil pengecekan tersebut, muncul nama Mahmudin sebagai penerima PIP, meskipun setelah lulus dari SMPN 4 Cikalongkulon, anaknya memilih bekerja di Bogor dan tidak melanjutkan pendidikan SMK manapun.

" Iya, saya mengecek secara mandiri di aplikasi SIPINTAR, dengan diawali memasukan NISN dan NIK anak saya diaplikasi tersebut, setelah itu muncul nama anak saya (Mahmudin) dari tahun 2023- 2024 tercatat sebagai penerima manfaat PIP, padahal semenjak lulus di SMPN 4 Cikalongkulon dia langsung memilih bekerja di Bogor, baik kami selaku orang tua, maupun individunya tidak pernah mendaftar/mendaftarkan diri di SMKS Bina Teknik," jelas Titing.

Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui lokasi SMKS Bina Teknik dan tidak pernah memberikan mandat kepada pihak lain untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tersebut.

" Lokasi SMKS Bina Teknik ada di daerah mana pun saya tidak tahu, intinya saya dan suami saya, maupun anak saya, tidak pernah mendaftar atau mendaftarkan anak saya di SMKS Bina Teknik," tandasnya.

Ketika ditanyakan apakah pernah ada pendelegasian kepada pihak lain, termasuk pihak sekolah asal, untuk mendaftarkan Mahmudin ke SMKS Bina Teknik, Titing kembali membantahnya.

" Ngak pernah mendaftarkan, apalagi menyuruh pihak lain untuk mendaftarkan, nu aya murangkalih teh hoyong liren wae sakola di SMP na oge, keukeuh hoyong dameul, tapi ku abdi di caram, minimal atuh gaduh ijazah SMP," jawabnya.

Tedi Juga Disebut Tercatat

Persoalan serupa juga disampaikan Tuti. Ia mengatakan anaknya, Tedi, langsung bekerja setelah menyelesaikan pendidikan di SMPN 4 Cikalongkulon dan tidak pernah mendaftarkan diri ke SMKS Bina Teknik.

" Anak saya setelah lulus di SMPN 4 Cikalongkulon langsung bekerja, baik saya selaku orang tua nya, maupun Tedi sendiri tidak pernah mendaftar atau mendaftarkan di SMKS Bina Teknik," ungkapnya.

Tuti mengaku mengetahui nama anaknya tercantum dalam data penerima PIP setelah melakukan pengecekan menggunakan NISN dan NIK melalui aplikasi SIPINTAR. Dalam data tersebut, Tedi tercatat sebagai penerima PIP tahun anggaran 2024 dengan satuan pendidikan SMKS Bina Teknik.

" Kebetulan saya mengecek secara mandiri daftar penerima manfaat PIP melalui aplikasi SIPINTAR, setelah memasukkan NISN dan NIK anak saya, lalu namanya muncul sebagai penerima manfaat PIP tahun anggaran 2024 di satuan pendidikan SMKS Bina Teknik, padahal baik saya orang tua nya, maupun Tedi sendiri tidak pernah mendaftar di SMKS Bina Teknik," ungkapnya.

Tuti meminta persoalan tersebut ditelusuri untuk mengetahui pihak yang memasukkan data anaknya serta tujuan pencatatan tersebut.

" Karena ini menyangkut pemakaian data pribadi tanpa izin, saya ingin kasus ini di ungkap secara terang benderang, siapa yang telah mendaftarkan anak saya, tujuannya apa? Dan itu harus di ungkap seterang- terangnya," pinta Tuti.

Goesta
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Data Anak Tercatat di SMKS Bina Teknik Tanpa Sepengetahuan Orang Tua, Kepala KCD Wilayah VI Janji Telusuri Statusnya

Trending Now

Iklan