Latest Post

Hasil Tangkapan Ikan Nelayan Jayanti Merosot Tajam

Written By deden sukmayadi on Rabu, 20 Februari 2013 | 03.10


Cidaun (Suara Cianjur) – Hasil tangkapan ikan Nelayan Jayanti di Kecamatan Cidaun, akhir-akhir ini mengalami penurunan drastis. Kondisi ini sudah terjadi beberapa pekan terakhir, hingga membuat para nelayan merugi. Minimnya hasil tangkapan, berimbas pula pada pasokan ikan di tempat pelelangan ikan. Harga ikan mendadak mahal dan membuat para pedagang mengeluh karena berimbas terhadap daya beli.
Dadam, 49, tokoh nelayan setempat mengungkapkan, beberepa nelayan terpaksa memarkirkan perahu di dermaga karena tak sanggup membayai operasional melaut. Dibanding nilai tangkapan, pada saat ini lebih mahal operasional. “Besar pasak ketimbang tiang kalau pribahasanya. Hasil ikannya sedikit biaya solarnya mahal,” cetus Dadam yang ditemui di Dermaga Jayanti, kemarin.
Dia menambahkan, tidak sedikit para nelayan yang harus bekerja menjadi buruh kasar untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. “Namun sebagian ada yang memaksakan untuk melaut mencari peruntungan di lokasi penangkapan ikan di luar zona kawasan laut Jayanti,” tambahnya.
Sementara Darman, seorang nelayan lainnya berujar, beberapa nelayan ada yang menjadi pencari udang karang. Meski harga Udang ini tidak sebagus harga lobster, tapi sedikitnya bisa membantu kebutuhan hidup para nelayan. (Rustandi)

Panwas Minta Tim Sukses Cabuti Atribut Kampanye


KOTA (Suara Cianjur)  – Pantia Pengawas (Panwas) Pilgub Jabar kabupaten Cianjur, mengintruksikan agar tim kampanye masing-masing calon menurunkan atribut kampanye pasangangnya terhitung mulai besok (kamis 21/02) di semua titik. Jika membandel, pihak Panwas bersama aparat akan menunrunkan paksa atribut tersebut dan menindaklanjutinya sesuai perundang-undangan.
Menurut Ketua Panwas Yuyun Yunardi, pihaknya telah melayangkan surat intruksi itu ke masing-masing calon untuk ditindaklanjuti. Selain atribut kampanye, tim sukses juga diharapkan dapat mempreteli semua jenis atribut yang menempel di media mobile dan dinamis.
“Kita berharap agar intruksi itu bisa ditindaklanjuti sesuai jadwal, sehingga tidak mengganggu masa tenang sebelum hari pencoblosan tanggal 24 Februari nanti,” cetusnya saat dimintai keterangan oleh media ini, tadi siang (rabu 20/02).
Selebihnya diungkapkan Yuyun, secara serentak pihak Panwas di seluruh wilayah di Cianjur akan melakukan penertiban terhadap atribut, besok malam (kamis 21/02) sekitar pukul 19.00 WIB. “Itu kita lakukan untuk menyisir jika kemungkinan masih ada atribut yang terpasang,” terangnya. (rustandi)

Ajaib, Ayam Betina Berubah Jadi Ayam Jantan

Written By deden sukmayadi on Minggu, 10 Februari 2013 | 02.51


Tanggeung (Suara Cianjur). Warga masyarakat Kampung Wangun Kecamatan Tanggeung Cianjur, digemparkan oleh peristiwa ajaib yakni berubahnya jenis ayam betina jadi ayam jantan. Pemilik ayam ajaib bernama Palu tidak habis pikir mengapa ayam miliknya jadi berubah seperti itu.
Palu bercerita, ayam miliknya itu sudah empat kali beranak dan jumlahnya selalu banyak. Namun, setelah empat kali beranak, secara berangsur-angsur rupa ayamnya itu berubah dari warna bulunya yang awalnya abu-abu diserta warna hitam dan putihnya jadi coklat belang diiringi dengan kakinya yang bertaji. Hanya bulu warna hitam di ekornya tak berubah sama seperti saat masih ayam betina serta membesar jangernya.
“Suaranya juga lebih merdu,  jadi berkokoknya nyaring keras sebagaimana ayam jantan, tapi lucunya ayam jantan lain masih suka mengejar ayam saya yang sudah berubah itu..” tutur Palu yang tampak pikirannya seperti masih diliputi keheranan.
 Ayam ajaib ini banyak didatangi orang, malahan sudah ada yang ingin membelinya dengan harga 500 ribu rupiah, namun Palu tak mau menjualnya. (cepi).



Cita-Cita yang Terganjal Buruknya Infrastruktur Jalan

SUARA CIANJUR -- Menempuh Jalan jauh dan terjal demi menggapai sebuah asa adalah romantika hidup yang harus di jalani anak-anak di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Cidaun. Demi menimba ilmu di bangku Sekolah Dasar, murid yang bersekolah di SD Parakan Telu, rela bejalan belasan kilometer. Terkadang, medan yang terjal dan berbatu harus mereka tempuh tanpa alas kaki. Ngiris memang, tapi ini fakta yang harus dihadapi anak-anak pedalaman disana. Visi pemerintah yang mengusung pendidikan sebagai nomer wahid, seperti khayalan yang tak mungkin mereka rasakan.
Tak jarang, saat hujan menghadang suasana sekolah sepi dari riuhnya canda dan tawa para murid. Mau tidak mau, siswa yang harus berjalan kurang lebih 15 kilometer dengan jalan terjal menurun dan menanjak,  memilih libur ketimbang masuk sekolah. Itulah pilihan, ketika keinginan belajar dihadang  kondisi alam yang tidak memungkinkan untuk ditembus dengan hanya bermodal ingin pintar
Pantauan media ini, keberadaan Desa Mekar Jaya di Kecamatan Cidaun, tak ubahnya seperti perkampungan yang terisolir. Meski infrastruktur sekolah ada, tapi tetap tak menopang cita-cita anak pedalam di Daeah ini. terkadang, puluhan mata murid di sekolah itu harus menyakiskan tempat mereka belajar tergenang air hujan, akibat buruknya drainase dan poisis sekolah yang berada di cekugan lembah.
Ngiris memang, tapi fakta ini harus dihadapi dan dilakoni sebagai satu konsekuensi meraih asa yang belum tentu mereka capai. Keterbatasan infrastruktur yang mengganjal cita-cita mereka, adalah tamparan keras bagi pemerintah yang selalu bicara pendidikan dan hal didalamnya. Boleh jadi, ini lah PR besar kedepan bagi Pemerintahan Cerdas Jilid II. 
Dilapangan, beberapa anak yang berhasil ditemui menghela nafas saat kakinya yang rapuh dipaksa menyusuri jalan tanjakan berbatu yang akrab disebut masyarakat di sana sebagai tanjakan parakan telu. Dewi, Mira, Cece, Inen dan tiga orang teman lainnya, tampak tak memperlihatkan kelelahan saat meter-demi meter tanjakan yang dikenal cukup curam mereka lewati.
“Ah tos biasa pa wartawan, tiap poe oge angkat atanapi mulih lewat jalan ieu. Asal tong hujan masih tiasa dianggo jalan jeung teu bahaya (sudah biasa tiap hari juga berangkat dan pulang melewati jalan ini. asal jangan hujan saja, tentu tidak menjadi masalah karena masih biasa dipakai jalan dan tidak berbahaya….red),” kata Dewi anak kelas tiga SD dalam bahasa sunda.
Dewi menambahkan, selama ini bukan soal gedung sekolah yang menjadi masalah utama dalam menimba ilmu. Tapi infrastruktur jalan yang begitu buruk dan tak jarang sama sekali tidak bisa dilewati karena cukup licin disaat hujan datang.
Meski begitu, dewi dan rekan sekelasnya tetap bertekad untuk merampungkan sekolahnya. “Pokoknya kalau tidak hujan tetap sekolah nomer satu,” tambahnya.

Seperti dikemukakan tokoh masyarakat di Cidaun, Endang Kartiwa, kondisi jalan yang berada di empat Desa di Cidaun yakni Desa Cibuluh, Puncak Baru, Mekar Jaya dan Gelar Wangi, memang sangat buruk sekali. Hal ini menyebabkan, berbagai hal aktifitas warga salah satu pendidikan, terganggu. Endang mengatakan, warga mendesak agar pemerintah melakukan upaya pembangunann jalan yang menjadi akses satu-satunya menghubungkan ke empat desat itu denga daerah lainya di Cidaun.

Selama ini, kata Endang, ada sinyalement pembangunan jalan terganjal kebijakan pemangku atau pengelola hutan lindung. “Kepada saya warga mengungkapkan, kalau ada sinyalement ijin pembangunan jalan yang menghubungkan ke empat Desa dengan Kecamatan Cidaun, terhadang soal masalah kebijakan oleh pihak BKSDA,” cetus Endang

Saat dikonfirmasi, Kepala BKSDA, Isis, mengaku pihaknya bukan tidak mendukung pembangunan jalan dan tidak pernah menghalangi keinginan warga. Namun, sambung Isis, karena akses jalan itu berada di kawasan Hutan Lindung, tentu ada proses ijin yang harus ditempuh terlebih dahulu warga. “Jangan sampai ada anggapan kami tidak mendukung, tapi tentu ada proses yang memang memerlukan ijin dari pihak yang berwenang,” papar Isis saat dikonfirmasi salah seorang wartawan media online belum lama ini.

Diterangkan Isis, warga bisa mulai mengajukan Ijin soal pembangunan jalan ke Menteri atau setingkat dibawahnya seperti Dirjen dan Balai Besar.

BUPATI : KAMI SIAP BANGUN JALAN

Bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh melalui Kepala Dinas Bina Marga, Atte Adha Kusdinan dalam jumpa pers beberapa waktu lalu di Pendopo, mengaku siap untuk membangun akses jalan dalam menunjang aktifitas warga di empat desa di Cidaun. Terlebih pembangunan jalan itu untuk menopang akselerasi pendidikan di daerah tersebut.

Meski begitu, diakui Atte, ada beberapa kendala untuk membangun jalan yang menembus hutan lindung di kawasan Cidaun itu. “Memang akses jalan itu berada di kawasan hutan lindung dan itu memerlukan ijin dari beberapa pihak yang berkompeten. Tapi pada prinsipnya, Pemerintah Kabupaten siap untuk membangun jalan tersebut,” tegas Atte.

Seusai jumpa pers saat dimintai tanggapannya secara terpisah, Bupati mengaku sangat prihatin mendapat kabar tentang keberadaan anak sekolah yang harus berjalan belasan kilometer untuk menimba ilmu. “Ini memang yang kita selalu pikirkan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat Pemkab bisa mewujudkan impian anak-anak SD disana agar tidak lagi menembus hutan belantara,” cetusnya.
Intinya, kata Bupati, Pemerintah akan berusaha merangkul semua aspirasi masyarakat termasuk keinginan masyarakat disana.

“Tapi tentu ada mekanisme karena penggunaan anggaran tidak mudah begitu saja digelontorkan untuk pembangunan jalan. Ada mekanismenya termasuk perencanaan yang matang,” pungkasnya. (rustandi)

Dede Yusuf : Gubernur Jangan Makan Gaji Buta


Kota (Suara Cianjur) -- Calon Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, dihadapan ratusan simpatisannya berkomitmen, jika terpilih menjadi Gubernur dalam Pemilukada nanti, akan memposisikan diri merakyat sebagai wujud kebersamaan membangun Jawa Barat lebih baik dari sekarang. Komitmen itu, dikatakan Cagub nomer urut tiga itu saat berkampanye di Lapangan Prawatasari, tadi pagi (Minggu 1002).
Dede dalam orasi politiknya mengatakan, selain merakyat dirinya juga akan selalu tampil dan hidup sederhana karena harus sejajar dengan rakyat Jawa Barat. “Sebagai gubernur harus mau berjibaku bersama rakyatnya dan bukan sekedar makan gaji buta,” tandasnya.
Lebih jauh dikatakan pejabat Wakil Gubernur Saat ini, pemerintahannya nanti akan memperhatikan banyak hal salah satunya soal Beras untuk orang miskin alias Raskin. Kata Dede, Raskin harus sampai tetap sasaran dan tidak boleh perjualbelikan.
 “Selain itu keberadaan Jamkesmas dan Jemkesda harus dinikmati orang miskin bukan pejabat. Bahkan masyarakat yang memproses kartu untuk berobat gratis ini tidak boleh dipersulit,” beber Dede.
Dede menjanjikan, kepemimpinan dirinya kelak akan mengeratiskan sekolah dari tingkatan SD sampai SMU. Rencananya, pada tahun in siswa yang duduk dibangku SMU dan SMK akan mendapat tunjangan biaya sebesar Rp, 1,2 juta. “Itu janji saya jadi pilih nomer urut tiga,” teriak Dede didampingi calon wakilnya Lex Laksamana.
Sementara itu, Lex sendiri dalam orasi singkatnya mengungkapkan visi untuk membuat karti Tri Bhakti. Kartu ini berfungsi untuk menjamin mayarakat mendapatkan sekolah dan kesehatan gratis bahkan sampai pembuatan ssertifikat rumah gratis bagi orang miskin. (rustandi) 

Atap Ruang Ambrol Bayi Premature di RSUD Dievakuasi


Kota (Suara Cianjur)  – Sejumlah bayi yang sedang menjalani masa inkubasi dan perawatan intensif di Ruang Markisa lantai II Kelas B Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cianjur, terpaksa harus dievakuasi ke ruangan lebih aman menyusul ancamam robohnya atap ruangan. Proses evakuasi dilakukan, setelah hujan kembali mengguyur kawasan daerah Rumah Sakit di Pasir gede sekitar pukul 14.00 WIB barusan (Minggu 10/02). Sebelumnya, Sabtu (09/02) sejumlah atap di ruang RSUD roboh akibat terkena air hujan.
Reporter SUARA CIANJUR  Rustandi Zaelani melaporkan dari RSUD Cianjur, kepanikan keluarga pasien sempat terjadi saat satu ruang khusus inkubasi di Ruang markisa, mulai terlihat melepuh tergenang air dan terancam ambrol. Kepanikan makin parah, ketika hujan yang mengguyur kawasan rumah sakit makin membesar.
Tim medis yang dibantu tim teknik RSUD Cianjur, langsung berupaya menenangkan keluarga pasien agar tidak terlalu panik dan mengevakuasi bayi yang berada di ruang inkubasi. Menurut pihak rumah sakit dalam pengarahan langsung ke keluarga pasien menyarankan,  tetap tenang dan waspada. Apabila terjadi kejadian yang tidak diinginkan, para keluarga pasien diharap turut membantun tim medis menyelamatkan para bayi dan melakukan evakuasi ke jalur darurat yang telah disediakan.
Pihak Rumah Sakit yang diwakili Tim Teknik Instalasi Pemeliharaan Sarana (IPSRS) RSUD Cianjur, Edi Sutanto, membenarkan kalau beberapa atap  ruangan di Markisa dan Aromanis, ambrol setelah dihantam hujan pada hari Sabtu, kemarin. Ambrolnya atap, diduga akibat bocornya genteng sehingga air hujan tembus bahkan menggenangi atap hingga 50-60 centimeter.
Pihak RSUD, sambung Edi, langsung mengevakuasi para bayi yang menghuni kedua ruangan itu. Belasan paien dievakuasi ke ruangan C dan D di masih di ruangan yang sama. “Kita juga terpaksa menurunkan atap yang diduga tidak kuat menahan air hujan agar tidak mengakibatkan kejadian yang tidak diinginkan,” cetus Edi saat dikonfirmasi di ruang Markisa setelah melakukan penyuluhan kepada para pasien.
Salah seorang keluarga pasien Ridwan, warga Sukaluyu, Kecamatan Sukaluyu, mengatakan kalau pihak RSUD tidak antisifatip mengahdapi kejadian ambrolnya atap ruangan. Ridwan juga meminta agar pihak RSUD menjamin kalau ruangan yang sekarang dipergunakan benar-benar aman.
“Kebetulan pasca kejadian ambrolnya atap ruangan, saya berada disini (ruang markisa…red). Saya melihat ada kepanikan yang terjadi di keluarga pasien. Jadi saya harap, untuk mengatisipasi hal serupa pihak RSUD sudah siap dan puny solusi benar-benar menjamin pihak pasien,” katanya.
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. SUARA CIANJUR - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger